Jakarta (ANTARA) - Sakit gigi dapat muncul akibat berbagai masalah, mulai dari gigi berlubang, infeksi, gangguan gusi hingga gigi retak. Keluhan tersebut dapat diredakan sementara di rumah, tetapi tetap membutuhkan pemeriksaan dokter gigi untuk mengatasi penyebabnya.
American Dental Association (ADA) merekomendasikan obat antinyeri non-opioid, terutama obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen atau naproxen, sebagai pilihan utama untuk menangani nyeri gigi akut pada orang dewasa dan remaja berusia 12 tahun ke atas. Obat tersebut dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan parasetamol sesuai petunjuk penggunaan dan kondisi masing-masing.
Selain obat, terdapat sejumlah cara sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengurangi rasa sakit sambil menunggu pemeriksaan dokter gigi.
Baca juga: Cara mendiagnosis sakit gigi dan waktu yang tepat periksa ke dokter
1. Kumur dengan air garam
Berkumur menggunakan air garam hangat dapat membantu membersihkan area mulut dan meredakan rasa tidak nyaman pada gigi atau gusi.
Caranya, larutkan sekitar setengah sendok teh garam ke dalam segelas air hangat. Gunakan larutan tersebut untuk berkumur, kemudian buang dan jangan ditelan.
Cara ini tidak dianjurkan untuk anak-anak yang belum mampu berkumur dengan baik karena berisiko menelan air garam.
2. Bersihkan sisa makanan di sela gigi
Sisa makanan atau plak yang tersangkut di antara gigi dapat menyebabkan iritasi dan memperburuk rasa sakit. Membersihkan sela gigi secara hati-hati dapat membantu menghilangkan sisa makanan tersebut.
Namun, hindari membersihkan area yang sakit secara berlebihan karena dapat membuat jaringan semakin sensitif.
Baca juga: Obat tradisional yang ampuh meredakan sakit gigi secara alami
3. Kompres dingin dari luar pipi
Kompres dingin dapat membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan, terutama apabila sakit gigi berkaitan dengan benturan atau cedera.
Kompres dilakukan dari bagian luar pipi. Es sebaiknya dibungkus menggunakan kain dan tidak ditempelkan langsung pada kulit.
4. Gunakan obat pereda nyeri sesuai aturan
Obat pereda nyeri yang dijual bebas dapat membantu mengendalikan sakit gigi untuk sementara.
Pedoman ADA menyebutkan NSAID seperti ibuprofen atau naproxen, sendiri maupun dikombinasikan dengan parasetamol, dapat digunakan untuk menangani nyeri gigi akut pada orang dewasa dan remaja berusia 12 tahun ke atas ketika perawatan gigi belum dapat segera dilakukan.
Penggunaan obat harus mengikuti dosis dan aturan yang tercantum pada kemasan. Jangan mengonsumsi obat melebihi dosis yang dianjurkan.
5. Pilih makanan yang lunak
Ketika sakit gigi menyerang, pilih makanan yang mudah dikunyah, seperti yoghurt, telur, sup, atau makanan lunak lainnya.
Usahakan mengunyah menggunakan sisi mulut yang tidak sakit. Untuk sementara, hindari makanan yang terlalu manis, sangat panas, atau sangat dingin karena dapat memperburuk nyeri pada sebagian orang.
Baca juga: 5 kesalahan menyikat gigi yang bisa merusak gusi hingga sakit gigi
6. Hindari pemicu sakit gigi
Makanan dan minuman dengan suhu ekstrem serta makanan tinggi gula dapat memicu rasa sakit, khususnya pada gigi yang sensitif atau mengalami kerusakan.
Karena itu, pilih makanan dengan suhu sedang dan batasi makanan atau minuman manis selama gigi masih terasa sakit.
7. Tetap menjaga kebersihan gigi
Sakit gigi bukan alasan untuk berhenti menjaga kebersihan mulut. Gigi tetap perlu disikat menggunakan sikat berbulu lembut, tetapi lakukan dengan hati-hati terutama di sekitar bagian yang terasa sakit.
Menjaga kebersihan mulut dapat membantu mencegah penumpukan plak dan berbagai masalah gigi maupun gusi. Menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride serta membersihkan sela gigi setiap hari juga dianjurkan.
8. Segera periksa ke dokter gigi
Perawatan rumahan hanya membantu meredakan rasa sakit untuk sementara. Penyebab utama sakit gigi, seperti gigi berlubang, abses, gigi retak atau penyakit gusi, tetap perlu ditangani oleh dokter gigi.
Karena itu, jangan menganggap masalah sudah selesai hanya karena rasa sakit sementara menghilang. Pemeriksaan diperlukan agar penyebabnya dapat diketahui dan ditangani dengan tepat.
Baca juga: Gigi goyang bisa jadi menandakan masalah gusi dan penyangga gigi
Jangan asal menggunakan antibiotik
Sakit gigi tidak selalu membutuhkan antibiotik. Penggunaan antibiotik biasanya dipertimbangkan dokter berdasarkan penyebab dan kondisi pasien, terutama apabila terdapat tanda infeksi yang sudah melibatkan tubuh secara sistemik.
Masyarakat sebaiknya tidak membeli atau mengonsumsi antibiotik sendiri tanpa pemeriksaan. Pada banyak kasus sakit gigi, penanganan gigi secara langsung dan obat pereda nyeri lebih diutamakan.
Kapan sakit gigi harus diperiksa?
Sakit gigi yang berlangsung lebih dari dua hari, tidak membaik setelah menggunakan obat pereda nyeri, atau disertai demam, gusi kemerahan, nyeri ketika menggigit, rasa tidak enak di mulut maupun pembengkakan pada pipi atau rahang perlu diperiksakan ke dokter gigi.
Jika pembengkakan pada area mulut atau leher sampai menyebabkan kesulitan bernapas, menelan atau berbicara, kondisi tersebut membutuhkan pertolongan medis segera.
Dengan demikian, berkumur menggunakan air garam, membersihkan sela gigi, mengompres bagian luar pipi, memilih makanan lunak, menghindari pemicu dan menggunakan obat pereda nyeri sesuai aturan dapat membantu mengurangi sakit gigi sementara.
Namun, apabila rasa sakit menetap atau semakin parah, pemeriksaan dokter gigi tetap diperlukan untuk mengetahui sekaligus mengatasi penyebabnya.
Baca juga: Kenali gangguan kesehatan lain yang ditandai sakit gigi
Baca juga: Panduan lengkap pengobatan sakit gigi agar nyeri berkurang
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































