Langit baru di atas Batujai

23 hours ago 2
Keberanian NTB patut diapresiasi sebagai wujud optimisme membaca peluang baru. Namun optimisme tanpa kehati-hatian bisa melahirkan paradoks pembangunan

Mataram (ANTARA) - Air Bendungan Batujai pagi itu tampak tenang. Permukaannya memantulkan langit Praya yang biru, dikelilingi sabuk hijau yang sejak 2010 ditetapkan sebagai hutan kota.

Selama bertahun-tahun, kawasan yang berada di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini dikenal sebagai ruang terbuka, tempat warga berolahraga, memancing, atau sekadar menikmati senja.

Kini, arah angin pembangunan bertiup berbeda. Batujai disiapkan menjadi hub seaplane pertama di NTB, yakni pusat penghubung berbagai rute pesawat amfibi yang sekaligus berfungsi sebagai waterbase atau bandara di atas air dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2026.

Gagasan ini bukan sekadar wacana. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memberi sinyal kuat melalui kemudahan regulasi pengoperasian pesawat amfibi. Pemerintah daerah meneken kerja sama dengan investor untuk pembangunan hanggar dan fasilitas pendukung.

Sebanyak 14 jenis izin disebut telah dipenuhi. Dua unit pesawat disiapkan pada tahap awal, dengan landasan air sekitar 400 meter. Targetnya jelas, memperkuat konektivitas antarpulau dan mendukung agenda internasional seperti MotoGP di Mandalika.

Di atas kertas, ini terdengar menjanjikan. Namun, seperti setiap proyek besar, ia menyimpan peluang sekaligus tantangan yang perlu ditelaah lebih dalam.


Pariwisata berkualitas

NTB adalah provinsi kepulauan dengan sebaran destinasi wisata yang luas. Dari Lombok hingga Sumbawa, dari Gili hingga Teluk Saleh, jarak dan waktu tempuh sering menjadi kendala.

Di sinilah seaplane diproyeksikan mengambil peran. Kedekatan Batujai dengan Bandara Internasional Lombok (BIL) memberi keunggulan intermoda.

Wisatawan yang mendarat di bandara dapat berpindah ke pesawat air dalam waktu singkat, lalu terbang rendah menuju pulau-pulau kecil tanpa harus menempuh perjalanan darat berjam-jam.

Model seperti ini telah lama diterapkan di Maladewa dan sebagian Kanada. Pesawat amfibi menjadi tulang punggung konektivitas destinasi premium. NTB tampaknya ingin mengambil ceruk serupa, menyasar wisatawan berkualitas yang menghargai kecepatan dan eksklusivitas.

Secara ekonomi, potensi efek berganda terbuka. UMKM sekitar bendungan dapat tumbuh. Jasa transportasi lokal, katering, hingga perawatan pesawat akan menyerap tenaga kerja.

Pemerintah daerah menyebut analisis dampak lingkungan telah dilakukan dan dinyatakan aman. Investor juga berkomitmen membangun hanggar di lahan sekitar 50 are pada tahap awal.

Namun, pertanyaan mendasarnya bukan hanya soal izin dan infrastruktur. Apakah Batujai siap menjadi simpul baru ekosistem pariwisata udara tanpa menggerus fungsi sosial dan ekologisnya?

Sabuk hijau

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |