Yogyakarta (ANTARA) - Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI Farida Dewi Maharani menegaskan bahwa media harus mampu menghadirkan informasi yang terpercaya di ruang publik, khususnya ruang digital.
"Yang harus dipertahankan adalah bagaimana media mampu menghadirkan informasi yang terpercaya di ruang publik, khususnya ruang digital," kata Farida saat menjadi narasumber Workshop Membangun Media Lokal Berkelanjutan di Yogyakarta, Rabu.
Menurut dia, kompetisi media saat ini makin berat, jumlah platform informasi terus bertambah, sementara sumber pendapatan industri media tidak mengalami pertumbuhan sebanding, sehingga semakin banyak pelaku yang memperebutkan pangsa pasar yang sama.
Baca juga: Mendes: ANTARA media terpercaya-akurat di tengah disrupsi informasi
Namun demikian, kata dia, tantangan media saat ini bukan lagi sekadar siapa yang paling cepat memproduksi dan mendistribusikan berita.
"Karena itu, media juga harus terus bertransformasi menjadi media yang kredibel," katanya.
Menurut dia, perubahan yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat, sehingga disrupsi digital tidak hanya memengaruhi industri media, tetapi juga hampir seluruh sektor kehidupan.
"Perubahan yang kita hadapi sangat signifikan. Teknologi bukan hanya mendisrupsi media, tetapi juga berbagai sektor lainnya," katanya.
Ketua Komite Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers ,Muhammad Jazuli menilai industri media tengah menghadapi krisis kepercayaan akibat maraknya penyebaran hoaks, praktik clickbait, hingga pemberitaan yang cenderung membangun framing negatif.
"Fenomena ini mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi. Kalau dulu masyarakat lebih banyak membaca berita, sekarang mereka lebih banyak menonton konten di media sosial," katanya.
Dia mengatakan siapapun kini dapat memproduksi konten dan menyebarkan melalui berbagai platform digital, sementara tidak semua pembuat konten memiliki pemahaman mengenai prinsip-prinsip jurnalistik dan etika pers.
Oleh karena itu, media arus utama memiliki tanggung jawab lebih besar karena diikat berbagai regulasi dan standar etik, termasuk dari sisi konten, wajib mematuhi UU Pers, UU Penyiaran, hingga aturan yang mengatur penyajian informasi, baik dalam bentuk tulisan, audio, maupun video.
Baca juga: Dubes RI di Irak berharap ANTARA jadi pandu informasi terpercaya
Baca juga: Komisi I dukung Antara jadi sentral distribusi informasi terpercaya
"Kepercayaan masyarakat menjadi kebutuhan utama. Jika kepercayaan itu hilang, media juga akan kehilangan audiens sekaligus legitimasi," katanya.
Dalam workshop tersebut juga ditegaskan bahwa media memiliki tanggung jawab lebih luas dibanding sekadar menyampaikan informasi, sehingga media diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan sosial, membangun optimisme masyarakat.
"Selain itu, memperkuat solidaritas publik dan menghadirkan narasi yang mendorong semangat kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan," katanya.
Pewarta: Hery Sidik
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































