Kesehatan mental anak dimulai dari perempuan yang berdaya

3 hours ago 2
Ketika seorang ibu memiliki akses terhadap pengetahuan, dukungan, dan peluang usaha, ia dapat menjadi fondasi yang lebih kuat bagi keluarganya.

Jakarta (ANTARA) - Tidak semua persoalan anak bermula di sekolah. Tidak semuanya pula lahir dari pergaulan atau pengaruh media sosial. Sebagian justru berawal dari sesuatu yang tampak sederhana dan sering luput dari perhatian, yaitu suasana di dalam rumah.

Seorang anak mungkin tidak memahami apa itu inflasi, biaya hidup, atau kesulitan ekonomi keluarga. Namun, mereka mampu merasakan perubahan nada suara orang tuanya.

Mereka menangkap kecemasan yang tersimpan di balik percakapan orang dewasa. Mereka melihat kelelahan yang tidak terucapkan.

Bahkan ketika tidak ada satu kata pun yang menjelaskan situasi yang sedang terjadi, anak-anak sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya.

Oleh sebab itu, ketika berbicara tentang kesehatan mental anak, pembahasannya tidak cukup berhenti pada persoalan psikologi semata. Ada dimensi lain yang sering berjalan diam-diam di belakangnya, yakni ketahanan ekonomi keluarga.

Hubungan keduanya memang tidak selalu terlihat secara langsung. Tidak setiap keluarga yang menghadapi kesulitan ekonomi akan memiliki anak dengan masalah kesehatan mental.

Sebaliknya, tidak semua keluarga yang berkecukupan terbebas dari persoalan psikologis. Namun berbagai pengalaman menunjukkan bahwa tekanan ekonomi yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga, cara orang tua mengasuh anak, hingga suasana emosional yang terbentuk di rumah.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit, perhatian orang tua sering tersita untuk memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi. Pikiran tentang biaya sekolah, cicilan, kebutuhan pangan, hingga pengeluaran sehari-hari dapat menjadi sumber tekanan yang tidak ringan.

Ketika tekanan tersebut menumpuk, ruang percakapan di rumah sering kali ikut menyempit. Orang tua menjadi lebih mudah lelah, lebih mudah cemas, atau tanpa sadar menjadi kurang hadir secara emosional bagi anak-anak mereka.

Padahal bagi seorang anak, kehadiran emosional orang tua sama pentingnya dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Mereka membutuhkan tempat bercerita ketika mengalami masalah.

Mereka membutuhkan pendampingan ketika menghadapi kegagalan. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa ada seseorang yang akan mendengarkan tanpa menghakimi.

Kebutuhan tersebut menjadi semakin penting ketika anak memasuki masa remaja. Masa peralihan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama maupun dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas, merupakan fase yang penuh perubahan.

Pada periode ini anak mulai berhadapan dengan lingkungan baru, tuntutan akademik yang meningkat, perubahan fisik, hingga pencarian identitas diri.

Di tengah proses tersebut, mereka membutuhkan rumah yang mampu menjadi tempat paling aman untuk kembali.
Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa tidak semua anak memiliki ruang seperti itu.

Baca juga: OJK ajak anggota tim penggerak PKK jadi Duta Literasi Keuangan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |