Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengupayakan solusi konkret untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku industri keramik nasional yang saat ini menghadapi kendala di lapangan, khususnya terkait kebijakan daerah di Jawa Barat.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Selasa, mengatakan Kemenperin menerima laporan mengenai adanya kebijakan moratorium yang berdampak pada suplai bahan baku industri keramik di Jawa Barat.
Padahal, menurut dia, provinsi tersebut menyumbang sekitar 50–60 persen bahan baku bagi industri keramik nasional.
“Kita semua paham bahan baku itu penting sekali, apalagi 50-60 persen bahan baku dari teman-teman produsen keramik itu berasal dari Jawa Barat. Nanti coba kita cari jalan keluarnya seperti apa," katanya.
Ia mengatakan dirinya sudah mencoba berkomunikasi langsung dengan pimpinan daerah setempat dan memberikan arahan kepada direktorat jenderal terkait untuk segera melakukan pendekatan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat guna mengidentifikasi permasalahan dan mencari solusi terbaik.
Menurut Agus, institusi yang dipimpinnya ingin memastikan optimisme industri keramik yang disampaikan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) tetap terjaga.
"Coba kita cari jalan keluarnya seperti apa," ujar Agus.
Kemenperin mencatat kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional saat ini telah mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun, dengan tingkat utilisasi produksi yang diperkirakan mencapai 73 persen pada 2025, serta menyerap sekitar 150 ribu tenaga kerja.
Kinerja positif industri keramik nasional sejalan dengan capaian sektor industri manufaktur yang masih menjadi penggerak utama perekonomian nasional.
Sepanjang triwulan I hingga III 2025, Industri Pengolahan Nonmigas (IPNM) tumbuh sebesar 5,17 persen dan berkontribusi 17,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional.
Dari sisi perdagangan, IPNM menyumbang 80,27 persen terhadap total ekspor nasional, serta menyerap tenaga kerja hingga 20,26 juta orang.
Optimisme pelaku industri juga tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2026 yang berada pada level ekspansif di angka 54,12 poin, serta PMI Manufaktur yang terus menunjukkan tren positif.
Kemenperin, lanjutnya, meyakini industri keramik domestik bisa menjadi produsen besar empat dunia.
Ia mengatakan di tengah tantangan tersebut, Kemenperin juga terus memperkuat daya saing dan kinerja industri keramik nasional melalui berbagai inisiatif strategis.
Upaya tersebut meliputi penerapan standar industri hijau, transformasi menuju industri 4.0, peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta modernisasi pabrik dengan pemanfaatan teknologi digital, dan teknologi manufaktur terkini.
Selain itu, penguatan inovasi desain berbasis tren global juga didorong dengan tetap mengangkat kekayaan budaya Indonesia sebagai diferensiasi produk keramik nasional.
Sementara itu, Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengatakan mayoritas bahan baku industri keramik nasional memang berlokasi di Jawa bagian barat dan Banten karena ketersediaannya yang melimpah.
Menurut dia, gangguan pasokan bahan baku telah mulai dirasakan sejak kuartal IV 2025, dan berdampak langsung pada keberlangsungan produksi.
Untuk mempertahankan operasional dan mencegah perumahan karyawan, menurut dia, sejumlah pelaku industri terpaksa mencari sumber bahan baku alternatif dari luar daerah, seperti di Sumatera.
"Tentu ini akan memberikan tambahan cost, karena jaraknya sangat jauh. itu pun kami dengar, di situ depositnya sudah tidak banyak lagi," katanya.
Edy mengatakan berharap agar kondisi tersebut tidak berujung pada ketergantungan impor bahan baku dari negara lain.
"Kami sayangkan jangan sampai pasar kita ada, material kita ada, namun terpaksa nanti suatu hari kita harus mengimpor bahan baku, terutama dari negara tetangga, dari Malaysia," katanya.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































