Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama (Kemenag) melaporkan simulasi Al Quran Bahasa Isyarat Indonesia menarik perhatian pengunjung Paviliun Indonesia pada ajang Cairo International Book Fair (CIBF) ke-57 di Kairo, Mesir.
“Inovasi ini menjadi yang pertama di dunia, karena mengisyaratkan lafaz dan huruf Al Quran dengan tetap memperhatikan harakat dan kaidah tajwid,” ujar Pentashih Mushaf Al Quran Isyarat Kemenag Hilma Rosyida Ulya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Hilma mengatakan praktik ini berbeda dari metode yang selama ini berkembang, yang umumnya hanya mengisyaratkan makna kandungan ayat. Tujuannya agar Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW) dapat membaca Al Quran secara tartil.
Menurutnya, mushaf Al Quran Isyarat Indonesia mulai dikembangkan sejak tahun 2018. Pengembangannya berangkat dari gagasan inisiator, Ida Zulfiya Choiruddin dari Lajnah Pentashihan Mushaf Al Quran (LPMQ) Kemenag, yang berkoordinasi dengan Majelis Ta’lim Tuli Indonesia (MTTI) dan Dewan Pimpinan Pusat Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (DPP PPDI).
Mushaf Al Quran Isyarat Indonesia naik cetak pada 2024 dan rampung pada 2025 dengan total produksi 2.000 set, terbagi dalam dua jilid. Selain dalam bentuk cetak, mushaf ini tersedia dalam aplikasi Quran Kemenag.
Baca juga: Kemenag kenalkan koleksi perpustakaan Islam digital di Mesir
Sebelum dipamerkan di Mesir, Mushaf Al Quran Isyarat Indonesia telah diperkenalkan di Malaysia pada 2025 dan mendapatkan respons positif. Di dalam negeri, kehadiran mushaf ini disambut baik oleh komunitas Teman Tuli karena memberikan media baru untuk melafalkan ayat Al Quran secara utuh.
Dalam simulasi yang didemonstrasikan langsung di Paviliun Indonesia, pengunjung diperkenalkan pada konsep dasar isyarat huruf, harakat, dan tajwid, kemudian dilanjutkan dengan praktik menggunakan lafadz basmallah.
“Simulasi ini bertujuan untuk memperkenalkan Al Quran Isyarat, khususnya bagi PDSRW di Mesir, sekaligus bagi pengunjung dengar yang datang ke Paviliun Indonesia,” kata Hilma.
Menurutnya, kehadiran Al Quran Bahasa Isyarat diperlukan karena selama ini Teman Tuli umumnya hanya mendapatkan akses pengisyaratan makna ayat, bukan pada pelafalan huruf dan tajwidnya. Dengan mushaf ini, PDSRW memiliki media untuk membaca Al Quran secara lebih lengkap dan sesuai kaidah.
Baca juga: Al Quran bahasa isyarat tak lepas dari peran diplomasi Indonesia
Saat ini UPQ Kemenag baru memiliki satu ahli Al Quran Isyarat yang secara khusus menangani pengembangan dan pendampingan mushaf tersebut.
Menurutnya, respons pengunjung terhadap simulasi Al Quran Isyarat di Mesir begitu positif. Sejumlah doktor dan ahli bahasa isyarat dari Mesir tertarik berdiskusi lebih lanjut dan telah terhubung langsung dengan Ida Zulfiya Choiruddin sebagai inisiator.
“Teman Tuli di Mesir merasa senang mengetahui adanya perhatian berupa media yang memungkinkan mereka membaca Al Quran dengan tartil,” ujarnya.
Sementara itu Sekretaris Ditjen Bimas Islam Lubenah menyebut mushaf Al Quran dengan bahasa isyarat merupakan salah satu fitur paling ikonik di paviliun Indonesia. Fitur ini memungkinkan pengunjung dari berbagai negara menyaksikan langsung demonstrasi penggunaan Al Quran bagi komunitas tuli.
“Banyak pengunjung yang tertarik mempelajari Al-Quran bahasa isyarat. Ini menjadi bukti bahwa Islam Indonesia memiliki kepedulian kuat terhadap inklusivitas,” katanya.
Baca juga: Pelatihan Al Quran bahasa isyarat bukti pendidikan hadir untuk semua
Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































