Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN berkomitmen terus melibatkan generasi muda dalam semua aspek pembangunan bangsa, termasuk kebijakan-kebijakan kependudukan.
Wamendukbangga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka saat mewakili Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji dalam taklimat media menuju Hari Kependudukan Sedunia di Jakarta pada Rabu mengemukakan, generasi muda perlu dilihat bukan hanya sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan mitra utama dalam menentukan arah pembangunan itu sendiri.
"Melalui kolaborasi bersama institusi pendidikan, sekolah, maupun penggerakan masyarakat, kita berupaya meningkatkan meaningful youth participation atau keterlibatan remaja dalam semua aspek pembangunan. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak seluruh remaja untuk aktif di berbagai kegiatan positif dan terlibat dalam setiap kebijakan kependudukan," ujar Isyana.
Ia menyebutkan berbagai program yang telah dilakukan oleh Kemendukbangga/BKKBN, di antaranya Generasi Berencana (Genre), Pusat Informasi dan Konseling Remaja atau PIK-R, hingga Sekolah Siaga Kependudukan atau SSK, serta Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI yang merupakan komitmen nyata Kemendukbangga/BKKBN untuk mendukung remaja serta menjadi kolaborator bagi mereka untuk aktualisasi diri dan siap menjadi pemimpin di masa depan.
Isyana melanjutkan, di tahun 2026, Hari Kependudukan Dunia mengangkat tema "Realizing the Hopes and Aspirations of Young People Today and for the Future" atau mewujudkan harapan dan cita-cita generasi muda hari ini dan untuk masa depan. Generasi muda sebagai mitra utama pembangunan dinilai memiliki harapan, aspirasi, kreatifitas, dan potensi yang didukung melalui kebijakan yang berpihak dan lingkungan yang memungkinkan mereka untuk berkembang secara optimal.
"Tema ini mengajak kita untuk melihat lebih dalam realitas yang dihadapi oleh generasi muda. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, kita melihat kecenderungan semakin banyak anak muda yang menunda, bahkan tidak lagi memandang kehidupan berkeluarga sebagai pilihan yang mudah diwujudkan," ucap Wamendukbangga.
Fenomena tersebut, menurutnya, tidak dapat disederhanakan sebagai persoalan preferensi pribadi semata karena di baliknya terdapat berbagai hambatan sistemik yang memengaruhi kemampuan mereka dalam merencanakan masa depan.
"Bagi sebagian besar anak muda Indonesia, membangun keluarga tetap menjadi bagian dari cita-cita hidup. Namun, mereka juga dihadapkan pada berbagai tantangan mulai dari ketidakpastian ekonomi, akses terhadap pekerjaan yang layak, tingginya biaya pendidikan dan perumahan, kebutuhan akan layanan kesehatan yang berkualitas sehingga ada tantangan menjaga keseimbangan antara kehidupan keluarga dan karier," tuturnya.
Berdasarkan survei demografi UNFPA di 73 negara, ditemukan bahwa lebih dari dua pertiga responden tetap memilih institusi pernikahan sebagai jalur hidup ideal mereka. Data ini mematahkan anggapan bahwa generasi muda mulai meninggalkan nilai-nilai keluarga. Namun, mereka menetapkan standar yang tinggi.
Generasi muda secara tegas memprioritaskan tercapainya stabilitas finansial serta kesehatan fisik dan mental yang prima sebagai syarat mutlak sebelum memasuki tahapan kehidupan baru. Meski dua pertiga responden merasa optimis terhadap masa depan pribadi mereka, terdapat kekhawatiran kolektif yang tinggi terhadap ketidakpastian ekonomi global, risiko konflik, dan ketimpangan sosial.
Baca juga: Mendukbangga: Pernikahan tak tercatat bisa tingkatkan risiko stunting
Baca juga: DPR minta Kemendukbangga susun peta jalan baru penurunan stunting
Baca juga: Mendukbangga minta tenaga lapangan susun data MBG 3B guna sinkronisasi
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































