Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkapkan kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) menjadi kunci dalam meningkatkan perdagangan dan investasi.
"Apa yang paling penting untuk CEPA adalah membesarkan daripada perdagangan (trade). Nah dengan sendirinya kalau keseimbangan itu akan terjadi kalau kita ingin bicara jangka panjang," ujar Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Business Advisory Council (ABAC) Side Events di Jakarta, Jumat.
Dirinya juga menambahkan selain perdagangan, investasi juga dapat ditingkatkan melalui ICA-CEPA.
Hal tersebut penting dikarenakan antara Indonesia dan Kanada itu banyak komponen-komponen industri dan bisnis yang mirip, seperti mineral kritis.
"Lalu juga misalnya kita bicara energi, agrikultur itu banyak sekali kita bisa bekerjasama. Dan saya rasa ini bisa menjadi bukan hanya alternatif tapi menjadi koridor pertumbuhan yang baru (new growth corridor) dan bisa menjadi contoh juga untuk negara-negara lainnya," kata Anindya.
Sebagai informasi, Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengatakan bahwa ratifikasi kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) hanya tinggal menunggu Presiden Prabowo Subianto mengajukan pembahasan ke DPR.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag Djatmiko Bris Witjaksono mengatakan ICA-CEPA merupakan sebuah tonggak sejarah, bukan hanya bagi Indonesia dan Kanada, tetapi juga bagi hubungan Kanada dengan kawasan Asia.
Dirinya turut menyoroti kondisi dinamis global yang menjadi salah satu alasan dibalik terwujudnya penandatangan ICA-CEPA pada September. Penandatangan berhasil dilakukan dengan rentang pembahasan yang kurang dari 24 bulan.
Adapun penandatanganan ICA-CEPA yang disaksikan oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney di Ottawa, Kanada, pada 24 September 2025.
Melalui implementasi ICA-CEPA, lebih dari 90 persen pos tarif Indonesia mendapat preferensi di pasar Kanada. Bahkan, beberapa produk akan langsung menikmati tarif 0 persen.
Sejumlah komoditas yang akan merasakan dampak langsung dari ICA-CEPA, di antaranya adalah produk olahan makanan, manufaktur, otomotif, elektronik, tekstil, hingga alas kaki.
Sementara itu, Indonesia membuka pasar sebesar 85 persen pos tarif untuk produk prioritas Kanada, seperti gandum, kentang, hingga daging sapi beku.
Pada Januari-Juli 2025, total perdagangan Indonesia dan Kanada mencapai 2,72 miliar dolar Amerika Serikat (AS), naik sekitar 30 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,09 miliar dolar AS.
Sedangkan ekspor Indonesia tercatat 1,01 miliar dolar AS, sementara impor dari Kanada mencapai 1,71 miliar dolar AS.
Baca juga: Kadin: Dunia usaha bisa bantu industrialisasi kemandirian maritim
Baca juga: Kadin: China minta RI jadi tuan rumah pertemuan pertama ABAC 2026
Baca juga: Kadin dukung pasar modal stabil dan kredibel di mata internasional
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































