Jakarta: jejak kudeta era perang dingin

3 hours ago 3
Bagi Indonesia, fakta bahwa nama ibu kotanya pernah dijadikan simbol dalam wacana perubahan rezim global adalah pengingat penting tentang posisi strategis negara ini dalam sejarah politik dunia. Indonesia bukan hanya penonton dalam drama geopolitik a

Jakarta (ANTARA) - Dalam sejarah geopolitik dunia, hanya sedikit nama kota yang melampaui batas geografisnya hingga menjelma menjadi simbol strategi politik internasional. Jakarta pernah menempati posisi itu.

Pada periode Perang Dingin, nama “Jakarta” tidak hanya merujuk pada ibu kota Indonesia, tetapi juga menjadi metafora dalam wacana politik global tentang operasi perubahan rezim. Di sejumlah negara, nama "Jakarta" bahkan dipakai sebagai sandi, sebuah kode yang menggambarkan penghancuran kekuatan politik tertentu melalui perpaduan operasi militer, kerja intelijen, dan propaganda yang terencana.

Tulisan ini mencoba menguak bahwa fenomena ini berakar pada krisis pergolakan politik Indonesia pada 1965–1966, yang bermula dari peristiwa Gerakan 30 September. Krisis tersebut memicu perubahan dramatis dalam struktur kekuasaan nasional, yaitu melemahnya posisi Presiden Sukarno, munculnya dominasi militer di bawah Suharto, serta pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pada masa itu merupakan salah satu partai komunis terbesar di dunia di luar blok sosialis.

Perang dingin dan rivalitas dua kutub

Peristiwa G 30/S tidak terjadi dalam ruang hampa. Ia berlangsung pada puncak rivalitas global antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam konteks Perang Dingin (Cold War). Indonesia pada masa itu memiliki posisi strategis sebagai negara besar, berpenduduk ratusan juta, dan berada di jalur geopolitik penting di Asia Tenggara. Karena itu, perubahan politik di Jakarta dipandang oleh banyak pengamat dan praktisi politik internasional sebagai peristiwa yang memiliki implikasi global.

Perhatian strategis Amerika Serikat terhadap Indonesia meningkat tajam. Melalui jaringan intelijen dan diplomatik, Central Intelligence Agency (CIA), Amerika Serikat melakukan pemantauan mendalam terhadap dinamika politik negara yang saat itu dipimpin oleh Sukarno. Langkah pertama yang dilakukan adalah pemetaan menyeluruh terhadap lanskap kekuasaan domestik.

Dalam berbagai penelitian sejarah, seperti Geoffrey B. Robinson - The Killing Season (2018)-- dan Vincent Bevins - The Jakarta Method (2020)-- , peristiwa Indonesia 1965-1966 sering disebut sebagai contoh keberhasilan perubahan orientasi politik negara tanpa perang terbuka antarnegara. Sejumlah arsip diplomatik yang kemudian dideklasifikasi oleh National Security Archive menunjukkan bahwa perkembangan di Indonesia dipantau secara intens oleh kekuatan besar dunia.

Baca juga: BM Diah tidak memprovokasi Gorbachev

Jakarta Method

Dari sinilah muncul istilah yang kemudian dikenal sebagai “Jakarta Method.” Istilah ini tidak selalu digunakan secara resmi dalam dokumen pemerintah, tetapi muncul dalam literatur akademik dan analisis geopolitik untuk menggambarkan pola perubahan kekuasaan yang melibatkan kombinasi tekanan politik, operasi keamanan, dan kampanye delegitimasi ideologi tertentu. Dalam konteks Perang Dingin, pola tersebut sering dikaitkan dengan upaya menghancurkan pengaruh komunis di berbagai negara.

Menariknya, istilah “Jakarta” kemudian muncul dalam lanskap politik negara lain. Pada awal 1970-an slogan “Jakarta is coming” pernah muncul dalam grafiti politik sebagai ancaman terhadap kelompok kiri. Ungkapan itu muncul menjelang dan sesudah kudeta militer yang menggulingkan Presiden Chili, Salvador Allende, dalam 1973 Chilean coup d'état.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |