Isu air dalam arsitektur konflik modern

2 hours ago 2
... isu keamanan air harus ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi pertahanan nasional bukan hanya sebagai isu lingkungan atau ekonomi, tetapi sebagai pilar stabilitas negara di era baru konflik global.

Jakarta (ANTARA) - Dalam dua dekade terakhir, sumber daya alam tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai instrumen strategis dalam konflik global. Di antara berbagai sumber daya tersebut, air muncul sebagai salah satu yang paling krusial.

Ketersediaan air bersih yang semakin terbatas, distribusi yang tidak merata, serta tekanan perubahan iklim telah menjadikan air sebagai variabel geopolitik yang sensitif. Dalam situasi seperti itu, air perlahan berkembang bukan sekadar kebutuhan dasar manusia, melainkan juga potensi “alat perang” baru di masa depan baik sebagai target serangan, sarana tekanan politik, maupun senjata strategis dalam konflik modern.

Secara konseptual, fenomena ini sebenarnya telah lama diperkirakan para pemikir hubungan internasional. Pada 1995, mantan Wakil Presiden Bank Dunia, Ismail Serageldin, pernah menyatakan bahwa “perang di abad ke-21 akan dipicu oleh air.” Pernyataan tersebut kini terasa semakin relevan di tengah meningkatnya konflik perebutan sumber daya air di berbagai kawasan dunia. Air bukan sekadar kebutuhan dasar manusia, melainkan juga penopang utama sektor pertanian, energi, hingga stabilitas sosial dan politik suatu negara.

Dalam perspektif strategi militer, air dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk operasi. Pertama, sebagai objek kontrol teritorial. Penguasaan terhadap bendungan, sungai lintas batas, maupun sumber air strategis mampu memberikan leverage besar terhadap lawan. Kedua, sebagai instrumen tekanan politik dan ekonomi, ketika aliran air sengaja dikurangi atau dimanipulasi untuk melemahkan negara di wilayah hilir. Ketiga, sebagai target serangan langsung dalam konflik bersenjata, dengan tujuan melumpuhkan infrastruktur vital sekaligus memicu krisis kemanusiaan.

Sejumlah peristiwa empiris menunjukkan bahwa air mulai memainkan peran penting dalam dinamika konflik modern. Salah satu contoh paling nyata terjadi dalam konflik di Suriah. Kelompok bersenjata, termasuk ISIS, secara sistematis menguasai bendungan besar seperti Bendungan Tabqa di Sungai Efrat. Penguasaan tersebut memungkinkan mereka mengendalikan pasokan listrik dan air bagi jutaan penduduk. Dalam sejumlah kasus, air bahkan dijadikan alat tekanan dengan memutus suplai ke wilayah yang dikuasai lawan. Dampaknya tidak hanya bersifat militer, tetapi juga memicu krisis kemanusiaan dalam skala luas.

Contoh lain dapat dilihat dalam ketegangan antara Mesir, Sudan, dan Ethiopia terkait pembangunan Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Sungai Nil. Bagi Mesir, yang sangat bergantung pada aliran Sungai Nil untuk kebutuhan domestik dan pertanian, proyek tersebut dipandang sebagai ancaman eksistensial. Dalam beberapa kesempatan, pejabat Mesir bahkan menyatakan bahwa seluruh opsi, termasuk langkah militer, tetap terbuka demi melindungi hak atas air mereka. Situasi ini menunjukkan bagaimana infrastruktur air dapat berubah menjadi titik rawan konflik antarnegara.

Dari perspektif teori perang, fenomena tersebut sejalan dengan pemikiran Carl von Clausewitz yang menyebut perang sebagai kelanjutan politik dengan cara lain. Dalam konteks perebutan sumber daya air, kepentingan politik dan ekonomi dapat dengan mudah bereskalasi menjadi konflik terbuka ketika kebutuhan vital suatu negara merasa terancam. Air, dalam situasi seperti itu, bukan hanya menjadi objek perebutan, tetapi juga medium dalam praktik coercive diplomacy.

Lebih jauh, pakar keamanan global Peter Gleick dari Pacific Institute telah mengembangkan basis data konflik air yang menunjukkan peningkatan signifikan insiden terkait air sejak awal abad ke-21. Data tersebut memperlihatkan bahwa air tidak hanya menjadi pemicu konflik, tetapi juga dimanfaatkan sebagai alat taktis dalam peperangan, mulai dari sabotase infrastruktur air hingga kontaminasi sumber air.

Baca juga: Air jadi senjata geopolitik baru di tengah krisis Kashmir

Baca juga: Peneliti BRIN sebut air dapat menjadi sumber konflik

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |