Iran bertekad terus berjuang

2 hours ago 1

Washington (ANTARA) - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya akan terus berjuang di tengah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel dan menyatakan mereka memiliki hak penuh untuk membela diri.

Arraghci, dikutip Xinhua dari ABC News pada Minggu (1/3), juga menyebut bahwa tidak ada pemimpin negara mana pun yang berhak melarang Iran untuk merespons serangan yang diarahkan kepada mereka.

Hal tersebut disampaikannya untuk menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengatakan Iran tidak boleh melakukan serangan balasan.

"Iran baru saja menyatakan bahwa mereka akan menyerang dengan sangat keras hari ini, lebih keras dari sebelumnya. MEREKA SEBAIKNYA TIDAK MELAKUKANNYA, KARENA JIKA MEREKA MELAKUKANNYA, KAMI AKAN MENYERANG MEREKA DENGAN KEKUATAN YANG BELUM PERNAH TERLIHAT SEBELUMNYA!" tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social, Minggu (1/3).

Terkait hal tersebut, Araghchi mengatakan kepada ABC News, bahwa tidak ada pemimpin negara yang berhak mengatakan seperti apa yang disampaikan Trump.

"Kami membela diri, dan kami memiliki hak penuh, hak yang sah, untuk membela diri. Apa yang kami lakukan adalah tindakan membela diri. Ada perbedaan besar antara keduanya. Kami tidak melihat batasan bagi kami untuk membela rakyat kami, untuk melindungi rakyat kami," ujar Araghchi.

Saat ditanya apakah penyelesaian melalui negosiasi dengan AS masih mungkin dilakukan, Araghchi menyiratkan bahwa dia ragu akan hal itu. Dia menyebut pembicaraan nuklir AS-Iran dalam beberapa tahun terakhir menjadi "pengalaman yang sangat pahit" bagi Iran.

Araghchi melanjutkan, Iran diserang pada Sabtu (28/2) dan juga Juni 2025, di tengah pembicaraan diplomatik dengan AS yang diyakini Iran sudah mengalami kemajuan.

Dia menambahkan bahwa Israel dan beberapa penasihat Trump telah "menyeret" Trump ke dalam perang meskipun kesepakatan damai tampak berpotensi tercapai usai perundingan di Jenewa, Kamis (26/2).

Terkait besar kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan-serangan AS dan Israel terhadap infrastruktur militer Iran, Araghchi mengakui bahwa mereka kehilangan beberapa komandan.

"Kami telah kehilangan beberapa komandan, itu fakta, dan nama-nama mereka sudah diumumkan. Namun fakta lainnya adalah tidak ada yang berubah dalam kemampuan militer kami," tutur Araghci.

Dia menekankan Iran mampu memulai serangan balasan bahkan lebih cepat daripada yang dapat dilakukannya dalam konflik 12 hari dengan Israel dan AS pada Juni 2025.

"Militer kami siap. Mereka cukup mampu untuk membela negara kami. Bahkan lebih dari itu, mereka lebih siap dan lebih mampu dibandingkan perang sebelumnya. Mereka berada dalam posisi yang lebih baik dan anda telah melihat bagaimana mereka bertindak sejauh ini," kata Araghchi.

Serangan udara besar-besaran AS-Israel, yang telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, memasuki hari kedua pada Minggu (1/3).

Trump mengatakan 48 pejabat tinggi Iran tewas dalam operasi tersebut dan pasukan AS telah menenggelamkan sembilan kapal perang Iran serta menghancurkan sebagian besar markas besar angkatan laut Iran.

Komando Pusat AS menyatakan melalui media sosial pada Minggu bahwa tiga anggota militer AS tewas dan lima lainnya terluka parah dalam operasi militer AS terhadap Iran.

Pewarta: Xinhua
Editor: Michael Teguh Adiputra Siahaan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |