Indosat lindungi pengguna dengan fitur anti-spam dan anti-scam

2 weeks ago 12

Jakarta (ANTARA) - Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat) menghadirkan fitur yang mampu mendeteksi panggilan, pesan, serta tautan dengan risiko spam dan scam guna melindungi pelanggan dari potensi penipuan digital.

Fitur berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) ini dikembangkan bersama Tanla lewat platformnya, Wisely AI.

"Melalui kolaborasi dengan mitra teknologi seperti Tanla, kami menghadirkan perlindungan yang lebih proaktif dan adaptif. Teknologi AI di jaringan kami membantu menyaring ancaman sebelum berdampak pada pelanggan," kata President Director and Chief Executive Officer Indosat Vikram Sinha di Jakarta, Jumat.

Data internal Indosat menunjukkan bahwa sebagian besar ancaman berasal dari modus penipuan OTP, phishing, dan undian palsu dengan saluran utama melalui SMS dan panggilan suara.

Aktivitas mencurigakan menurut data perusahaan meningkat pada periode tertentu, seperti menjelang hari raya, musim belanja daring, dan masa pencairan bantuan sosial.

Fitur perlindungan yang dihadirkan oleh Indosat juga mendorong keterlibatan pelanggan dalam upaya pencegahan.

Sejak diluncurkan enam bulan lalu, lebih dari 2,5 juta orang telah mengaktifkan fitur tersebut dan mencatatkan lebih dari 124.000 nomor yang digunakan untuk aksi penipuan.

Baca juga: Nezar sebut spam dan scam menjelma jadi industri kejahatan siber

Bagi pelanggan IM3, layanan perlindungan pengguna hadir melalui SATSPAM (Satuan Anti Scam dan Spam).

Sementara itu, pelanggan Tri dapat memanfaatkan fitur TRI AI: Anti-Spam/Scam dengan sistem identifikasi visual berbasis kode warna.

Pelanggan kini juga dapat menggunakan fitur auto blokir SMS penipuan, deteksi panggilan berisiko berbasis VoIP, dan pop-up notifikasi panggilan telepon sesuai tingkat risiko.

Selain itu, pelanggan akan mendapatkan ringkasan aktivitas mencurigakan melalui aplikasi dan integrasi perlindungan Plus+ di myIM3 dan bima+.

Vikram menyampaikan bahwa modus kejahatan digital semakin beragam dan mengancam banyak orang Indonesia.

Menurut laporan State of Scams in Indonesia 2025 dari Global Anti-Scam Alliance (GASA), hampir dua pertiga masyarakat Indonesia pernah menghadapi upaya penipuan, lebih dari sepertiga menjadi korban dalam 12 bulan terakhir, dan setiap korban rata-rata mengalami penipuan hingga 2,2 kali.

Selain itu, menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) sejak berdiri pada 22 November 2024 sampai 14 Januari 2026 telah menerima pengaduan penipuan dari konsumen dengan total nilai kerugian mencapai Rp9,1 triliun.

Baca juga: Indosat luncurkan fitur anti-penipuan digital berbasis teknologi AI

Baca juga: Kemkomdigi minta operator bangun sistem perlindungan dari penipuan daring

Pewarta: Farhan Arda Nugraha
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |