Jakarta (ANTARA) - Hubungan Indonesia dan China memasuki babak baru. Pertemuan pertama Comprehensive Strategic Dialogue (CSD) antara kedua negara, yang dilangsungkan di Jakarta, 21 Agustus 2026, bukan sekadar seremonial diplomatik semata.
Di dalam acara itu terdapat rancangan agenda kerja sama lima tahun untuk periode 2027–2031, mencakup perdagangan, energi, mineral, maritim, kecerdasan buatan, teknologi mutakhir, pangan, kesehatan, pendidikan, hingga keamanan.
Dengan demikian, hubungan kedua negara sedang bergerak dari kerja sama sektoral menuju arsitektur hubungan yang semakin menyeluruh.
Bagi Indonesia, China adalah mitra ekonomi yang terlalu penting untuk diabaikan. Adapun bagi China, Indonesia adalah negara yang terlalu besar untuk sekadar menjadi pasar atau pemasok bahan mentah.
Karena itu, pertanyaan terpenting untuk lima tahun ke depan bukan apakah Indonesia perlu bekerja sama dengan China. Jawabannya hampir pasti iya. Pertanyaannya adalah: Kerja sama seperti apa yang membuat Indonesia menjadi lebih kuat setelah kerja sama itu berlangsung?
Data perdagangan memperlihatkan besarnya hubungan ekonomi Indonesia-China, sekaligus menunjukkan adanya ketimpangan dalam struktur perdagangan kedua negara.
Pada Januari-November 2025, China menjadi pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai mencapai 58,24 miliar dolar AS, atau sekitar 23,80 persen dari total ekspor nonmigas. Pada saat yang sama, China juga menjadi negara asal impor nonmigas terbesar bagi Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada periode Januari-Oktober 2025 saja, impor nonmigas dari China telah mencapai 70,19 miliar dolar AS, atau 40,90 persen dari total impor nonmigas Indonesia.
Besarnya angka perdagangan tersebut menunjukkan bahwa China merupakan mitra ekonomi yang sangat penting bagi Indonesia. Namun, angka perdagangan tidak cukup dilihat hanya dari besar-kecilnya nilai ekspor dan impor.
Yang lebih penting adalah apa yang terjadi di balik angka tersebut, yaitu apakah hubungan perdagangan itu membuat kemampuan produksi Indonesia semakin kuat?
Impor dari China, misalnya, tidak dengan sendirinya menunjukkan posisi yang buruk. Negara yang sedang melakukan industrialisasi memang membutuhkan mesin, peralatan, bahan baku, komponen, dan barang modal dari negara yang memiliki basis industri lebih maju.
Bahkan, impor barang modal dapat menjadi investasi bagi peningkatan produktivitas apabila kemudian mampu memperkuat kapasitas produksi di dalam negeri. Impor barang modal dapat menjadi investasi bagi produktivitas masa depan.
Persoalan muncul apabila kebergantungan pada impor tersebut tidak menghasilkan kemampuan produksi domestik yang semakin kuat.
Rencana aksi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































