Jakarta (ANTARA) - Keinginan untuk membantu dan menyenangkan orang lain merupakan sikap yang positif dalam kehidupan sosial. Namun, apabila dilakukan secara berlebihan hingga mengorbankan kebutuhan, perasaan, atau kepentingan diri sendiri, kondisi tersebut dapat mengarah pada perilaku yang dikenal sebagai people pleaser.
Istilah people pleaser digunakan untuk menggambarkan seseorang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain, bahkan rela mengesampingkan keinginan maupun batasan pribadinya demi memperoleh penerimaan atau menghindari konflik. Meski bukan termasuk gangguan mental atau penyakit, perilaku ini dapat berdampak pada kesehatan psikologis apabila berlangsung terus-menerus.
Seseorang yang menjadi people pleaser cenderung sulit menolak permintaan orang lain, merasa bersalah ketika mengatakan "tidak", dan lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat memicu stres, kelelahan emosional, hingga meningkatkan risiko gangguan kecemasan dan depresi.
Baca juga: Kenali ciri-ciri "people pleaser" sebelum terjebak dalam kebiasaan ini
Lantas, hal apa saja yang membuat seseorang menjadi people pleaser?
1. Ingin diterima dan disukai banyak orang
Salah satu alasan paling umum seseorang menjadi people pleaser adalah keinginan untuk mendapatkan penerimaan dari lingkungan.
Mereka merasa bahwa dengan selalu membantu, mengiyakan permintaan, atau menghindari konflik, orang lain akan lebih menyukai dan menghargai dirinya. Akibatnya, kebutuhan pribadi sering kali diabaikan demi menjaga hubungan sosial.
2. Takut mengecewakan orang lain
Banyak people pleaser memiliki ketakutan berlebihan terhadap kemungkinan membuat orang lain kecewa.
Perasaan tersebut mendorong mereka untuk terus memenuhi harapan orang lain meskipun sebenarnya merasa keberatan atau tidak sanggup melakukannya. Mereka khawatir penolakan akan membuat hubungan menjadi renggang.
3. Takut ditolak atau merasa kesepian
Rasa takut kehilangan teman, pasangan, maupun lingkungan sosial juga dapat menjadi pemicu seseorang bersikap sebagai people pleaser.
Sebagian orang memilih mengikuti keinginan kelompok atau mengorbankan pendapat pribadi karena khawatir akan dikucilkan apabila berbeda pandangan.
4. Memiliki rasa percaya diri yang rendah
Kurangnya rasa percaya diri atau insecure menjadi salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan perilaku people pleaser.
Seseorang yang merasa tidak cukup baik atau meragukan kemampuannya cenderung mencari validasi dari orang lain. Mereka menganggap penghargaan dari lingkungan sebagai ukuran nilai diri sehingga selalu berusaha menyenangkan orang lain.
5. Pengalaman traumatis di masa lalu
Trauma masa kecil maupun pengalaman buruk dapat membentuk perilaku people pleaser.
Misalnya, seseorang yang pernah mengalami perundungan (bullying), pelecehan, kekerasan, atau tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis dapat belajar bahwa memenuhi keinginan orang lain adalah cara untuk menghindari konflik atau memperoleh rasa aman.
6. Pola asuh yang kurang tepat
Cara orang tua mendidik anak juga dapat memengaruhi pembentukan karakter seseorang.
Pola asuh yang terlalu menuntut anak untuk selalu patuh, mengutamakan kebutuhan orang lain, atau orang tua yang sering menempatkan diri sebagai korban (playing victim) dapat membuat anak tumbuh dengan kebiasaan mengorbankan dirinya demi memenuhi harapan orang lain.
7. Merasa diri kurang berharga
Sebagian orang memiliki pandangan negatif terhadap dirinya sendiri sehingga merasa harus terus membuktikan nilai dirinya melalui pengakuan dari orang lain.
Akibatnya, mereka cenderung sulit menetapkan batasan dan selalu berusaha membantu meskipun hal tersebut merugikan diri sendiri.
8. Memiliki kecemasan sosial
Orang yang memiliki kecemasan sosial umumnya lebih sensitif terhadap penilaian orang lain.
Mereka takut perkataan atau tindakannya menyinggung orang lain sehingga memilih selalu mengalah, meminta maaf meskipun tidak bersalah, atau menyetujui pendapat orang lain agar terhindar dari konflik.
9. Perbedaan budaya dan lingkungan sosial
Budaya dan lingkungan tempat seseorang tumbuh juga dapat memengaruhi munculnya perilaku people pleaser.
Pada sebagian lingkungan, menjaga keharmonisan dan menghindari penolakan dianggap sebagai nilai penting sehingga seseorang terbiasa mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri.
Selain itu, adanya kesenjangan sosial juga dapat mendorong seseorang berusaha menjaga hubungan dengan selalu memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya.
10. Adanya gangguan kepribadian tertentu
Dalam beberapa kasus, kecenderungan menjadi people pleaser juga dapat berkaitan dengan gangguan kepribadian tertentu. Namun, kondisi ini memerlukan penilaian dan diagnosis dari tenaga kesehatan profesional sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan perilaku sehari-hari.
Ciri-ciri seseorang yang menjadi people pleaser
Seseorang yang memiliki kecenderungan menjadi people pleaser umumnya menunjukkan beberapa perilaku tertentu, seperti sulit mengatakan "tidak" ketika diminta bantuan, mengambil pekerjaan tambahan meski tugas pribadinya belum selesai, terlalu banyak berkomitmen kepada orang lain, menghindari konflik dengan tidak menyampaikan pendapat yang sebenarnya, selalu menyetujui pendapat orang lain, sering meminta maaf meskipun bukan pihak yang bersalah, mengikuti aktivitas yang sebenarnya tidak disukai, hingga mengubah sikap atau kepribadian demi mendapatkan penerimaan dari lingkungan.
Pentingnya menjaga batasan yang sehat
Menjadi pribadi yang peduli dan suka membantu bukanlah hal yang keliru. Namun, setiap orang juga perlu memiliki batasan (boundaries) yang sehat agar kebutuhan fisik maupun emosional tetap terpenuhi.
Belajar mengatakan "tidak" pada situasi tertentu, menghargai pendapat sendiri, serta tidak bergantung pada validasi orang lain merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan mental.
Apabila kecenderungan menjadi people pleaser mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, memicu stres berkepanjangan, kelelahan emosional, atau membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi pilihan untuk memperoleh pendampingan dan strategi penanganan yang sesuai.
Baca juga: Studi: "People-pleasing" ganggu kesehatan mental dan kualitas hubungan
Baca juga: Cara menolak tanpa rasa bersalah untuk seorang people pleaser
Baca juga: Sering sulit bilang tidak? ini cara berhenti jadi "people pleaser"
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































