AS dukung reaktivasi pipa minyak Irak-Suriah

6 hours ago 4

Washington (ANTARA) - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) pada Jumat (17/8) menyatakan bahwa konsorsium internasional yang dipimpin perusahaan asal AS akan membantu upaya pemulihan jalur pipa minyak Kirkuk-Baniyas yang dibangun di wilayah Irak dan Suriah.

"Amerika Serikat menyambut baik niat Pemerintah Republik Irak dan Pemerintah Republik Arab Suriah untuk mendorong rehabilitasi serta rekonstruksi pipa minyak mentah Irak-Suriah,” ujar pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.

Menurut Deplu, pihaknya menyambut baik keterlibatan konsorsium internasional pimpinan AS untuk menangani aspek teknis dan finansial proyek ini.

Setelah direstorasi, jalur pipa bersejarah tersebut diperkirakan akan memiliki kapasitas distribusi awal mencapai 2 juta barel minyak mentah per hari (barrel per day/bpd).

"Komitmen kedua negara (Irak dan Suriah) untuk bekerja sama merevitalisasi dan mengoperasikan pipa minyak ini, menciptakan kerangka hukum, serta berkolaborasi secara konstruktif dengan konsorsium tersebut akan meningkatkan keamanan, stabilitas, dan kesejahteraan (kawasan)," tambah pernyataan tersebut.

Perusahaan minyak milik negara asal Suriah, Syrian Petroleum Company, telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan konsorsium internasional yang terdiri dari dua perusahaan asal AS, yakni Chevron dan Capital TI, serta UCC Holding asal Qatar.

Konsorsium tersebut akan bertugas menyusun studi teknis dan finansial untuk proyek restorasi jalur pipa tersebut.

Kolaborasi tersebut terjalin di tengah upaya Pemerintah AS untuk melemahkan pengaruh Iran atas rantai pasok energi global di tengah konflik yang terjadi di Selat Hormuz.

Iran dan AS sebelumnya telah menandatangani sebuah nota kesepahaman pada pertengahan Juni 2026 yang membahas upaya untuk mengakhiri konflik antara kedua negara, yang dimulai dengan serangan AS ke Iran pada 28 Februari lalu.

Namun, sejak 8 Juli lalu, militer AS kembali melancarkan sejumlah gelombang serangan terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim rangkaian serangan tersebut merupakan balasan atas intervensi Iran terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Sementara itu, Iran merespons dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Sepanjang fase pertama dari konflik tersebut, harga energi global melonjak tajam akibat gangguan pelayaran yang dialami kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.

Pipa minyak Kirkuk-Baniyas pertama kali beroperasi pada tahun 1952. Sepanjang sejarahnya, operasional pipa tersebut sempat beberapa kali dihentikan, terutama saat terjadi sabotase selama masa Krisis Suez atau Perang Arab-Israel Kedua pada 1956.

Selanjutnya, Irak melakukan penutupan sepihak jalur pipa tersebut antara 1982-2000 karena dukungan Suriah terhadap Iran selama perang Irak-Iran.

Jalur pipa tersebut pada akhirnya sama sekali tidak dapat beroperasi setelah hancur akibat serangan udara AS pada masa invasi ke Irak pada 2003.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Baca juga: Fasilitas minyak utama Kuwait rusak diserang Iran

Penerjemah: Uyu Septiyati Liman
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |