Istanbul (ANTARA) - Filipina dan Vietnam pada Senin sepakat untuk memperluas kerja sama bilateral di bidang politik-keamanan dan keselamatan maritim, serta menaikkan status kemitraan strategis mereka saat ini menjadi "kemitraan strategis yang ditingkatkan."
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pembicaraan antara Presiden Vietnam To Lam yang sedang berkunjung dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., di Manila, menurut sebuah pernyataan bersama.
To Lam, yang juga sekretaris jenderal Komite Sentral Partai Komunis Vietnam, tiba di Manila dalam kunjungan kenegaraan pertamanya pada Minggu.
Kunjungannya itu menandai peringatan 50 tahun berdirinya hubungan diplomatik dan satu dekade kemitraan strategis antara kedua negara.
Kedua pihak sepakat untuk meningkatkan mekanisme kerja sama maritim yang ada, termasuk implementasi "kesepahaman tentang pencegahan dan pengelolaan insiden" di Laut China Selatan yang disengketakan, serta kerja sama antara penjaga pantai mereka.
Mereka juga berkomitmen untuk menyelesaikan insiden maritim melalui cara damai dan bersahabat sesuai dengan hukum internasional.
Kedua presiden menyatakan tekad mereka untuk membangun kemajuan dari program kerja sama politik-keamanan saat ini, kolaborasi keselamatan dan keamanan maritim, pelindungan lingkungan laut, perluasan perdagangan dan investasi, pertukaran pertanian, pendidikan, pariwisata, serta pertukaran budaya dan antarmasyarakat.
Kedua pihak menyatakan keinginan mereka untuk melampaui target perdagangan bilateral sebesar 10 miliar dolar AS (Rp178,3 triliun) dan mencapai hubungan perdagangan yang seimbang melalui perluasan peluang perdagangan dua arah, peningkatan akses pasar, dan pengurangan hambatan perdagangan dan investasi.
Kedua pihak berkomitmen mempererat kerja sama pertanian melalui riset dan pengembangan bersama serta menjajaki peluang kolaborasi perdagangan dan investasi di bidang pertanian, perikanan, ekonomi biru berkelanjutan, pertanian cerdas, manajemen bencana, dan adaptasi perubahan iklim.
Kedua pihak juga menyerukan kerja sama bilateral yang lebih erat untuk memerangi penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur melalui pertukaran informasi, peningkatan kapasitas, dan kerja sama dalam pengelolaan perikanan dan penegakan hukum.
Kemudian, kedua pemimpin menyaksikan pertukaran beberapa perjanjian bilateral.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Vietnam desak pengendalian diri di tengah krisis tatanan internasional
Baca juga: Rusia dan Vietnam teken rencana kerja sama maritim hingga 2030
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.














































