Energi hijau untuk pusat data hijau nasional

6 days ago 5
RUPTL 2025–2035 patut dipahami bukan semata sebagai rencana penyediaan listrik, melainkan sebagai instrumen strategis negara dan peta jalan menuju ekonomi digital berkelanjutan

Jakarta (ANTARA) - Transformasi digital Indonesia tengah memasuki fase baru di mana terjadinya lonjakan aktivitas teknologi digital secara krusial mulai dari cloud computing, big data, serta penyediaan sistem/aplikasi yang berbasis pada Artificial Intelligence (AI).

Transformasi ini telah mengubah wajah industri serta layanan publik berbasis elektronik dan juga perkembangan data center (pusat data) dari sekadar fasilitas teknologi informasi menjadi kebutuhan infrastruktur strategis berskala nasional.

Dalam konteks pusat data ini, keberlanjutan pertumbuhan ekosistem digital tidak lagi semata ditentukan oleh ketersediaan teknologi, jaringan dan perangkat lunak, tetapi sangat bergantung pada kesiapan pasokan energi listrik rendah emisi untuk ketersediaan kebutuhan energi yang berkelanjutan.

Untuk menghadapi perubahan kebutuhan ini, Pemerintah Republik Indonesia telah menempatkan transformasi digital sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana dimuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2024–2029 (RPJMN 2024–2029).

Melalui agenda ini, transformasi digital diharapkan menjadi faktor yang berperan penting dalam peningkatan produktivitas secara lintas sektor, mulai dari ekonomi, industri, pendidikan, hingga layanan publik.

Namun, di balik harapan tersebut, terdapat tantangan struktural yang tidak dapat diabaikan, yakni tingginya tingkat kebutuhan konsumsi energi data center yang bersifat masif dan kebutuhan operasional yang berkesinambungan.

Apabila pengelolaan kebutuhan tersebut tidak dilakukan secara taktis dan strategis, hal ini akan berdampak pada potensi pencemaran lingkungan serta peningkatan jejak karbon nasional. Oleh karena itu, transformasi digital berbasis pada peningkatan dan pengembangan pusat data perlu diiringi dengan strategi pengembangan energi.

Secara global, pusat data diakui memiliki tingkat konsumsi listrik besar dengan pertumbuhan tercepat. International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa konsumsi listrik data center dan jaringan transmisi data telah mencapai sekitar 1-1,5 persen dari total konsumsi listrik dunia dan diproyeksikan terus meningkat seiring dengan semakin maraknya penggunaan teknologi berbasis AI.

Pusat Data memiliki karakteristik unik dan dapat dikategorikan sebagai beban listrik dengan skala besar dan berlangsung terus-menerus, fasilitas seperti hyperscale bahkan dapat menyerap daya hingga puluhan atau ratusan megawatt. Walau demikian, data center juga dituntut mencapai tingkat efisiensi tinggi yang umumnya diukur melalui indikator Power Usage Effectiveness (PUE).

Inovasi teknologi pendinginan, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam manajemen energi, serta integrasi sistem penyimpanan energi merupakan bagian pengembangan data center untuk mencapai efisiensi, keandalan, dan target rendah emisi.

Bagi Indonesia, pengembangan pusat data menjadi tantangan yang lebih kompleks karena sistem ketenagalistrikan nasional masih didominasi oleh pembangkit listrik berbasis energi fosil. Sehingga tanpa adanya transisi energi yang berkelanjutan, pertumbuhan data center untuk merespon kebutuhan publik akan berimplikasi langsung pada peningkatan emisi tidak langsung (scope 2 emissions) jika pasokan listriknya masih didominasi oleh penggunaan energi fosil.

Oleh karena itu, isu pusat data tidak bisa dilepaskan dari agenda transisi energi terbarukan.

RUPTL 2025-2035

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |