Ekonom: Kenaikan BI-Rate jadikan aset rupiah lebih menarik

2 days ago 2

Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan kenaikan BI-Rate dalam jangka pendek akan berdampak positif, karena membuat aset rupiah menjadi lebih menarik dan dapat menahan tekanan jual terhadap rupiah.

"Kebijakan ini juga dapat meredam spekulasi pelemahan rupiah, terutama bila diikuti kenaikan daya tarik SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), penurunan biaya lindung nilai, dan intervensi valas yang terukur," ujar Josua saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.

Namun, menurutnya, efektivitasnya tidak akan otomatis, yang mana rupiah baru akan lebih stabil apabila pasar melihat bahwa kenaikan suku bunga juga didukung oleh komunikasi kebijakan yang jelas, disiplin APBN, serta koordinasi pemerintah dengan BI yang konsisten.

"Jika sumber kekhawatiran investor tetap ada, dampak penguatan rupiah bisa hanya sementara," ujar Josua.

Menurutnya, BI ingin memberikan sinyal kuat bahwa pelemahan Rupiah sudah tidak cukup ditangani hanya dengan operasi pasar valuta asing (valas), namun perlu diperkuat dengan kenaikan imbal hasil rupiah agar aliran dana asing kembali masuk.

Ia menyebut langkah itu tepat dalam kondisi saat ini, namun sifatnya lebih sebagai langkah defensif untuk mencegah kerusakan yang lebih besar, bukan obat utama untuk seluruh masalah rupiah.

Ketika rupiah sudah menembus level psikologis penting, tekanan global masih tinggi, harga energi berisiko naik, dan investor asing masih berhati-hati, ia mengatakan memang perlunya menunjukkan respon tegas.

"Membiarkan rupiah melemah terlalu jauh justru dapat memicu kenaikan inflasi, memperburuk kepercayaan pasar, dan menaikkan biaya pembiayaan pemerintah maupun swasta," ujar Josua.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa pemerintah harus ikut memperkuat kepercayaan pasar melalui disiplin fiskal, belanja yang lebih selektif, kepastian regulasi, penguatan penerimaan negara, serta komunikasi yang lebih tenang serta berbasis data.

"Jika sisi fiskal dan regulasi tidak ikut memperbaiki persepsi investor, maka BI akan terus dipaksa bekerja lebih keras dengan biaya stabilisasi yang semakin mahal," ujar Josua.

Josua menyimpulkan bahwa kenaikan BI-Rate merupakan langkah yang perlu dan rasional untuk menahan tekanan rupiah, menjaga inflasi, serta menarik kembali dana asing, namun perlu diperlakukan sebagai jembatan untuk memulihkan kepercayaan, bukan sebagai solusi permanen.

"Rupiah akan lebih stabil jika kenaikan suku bunga dibarengi dengan kredibilitas fiskal, kepastian kebijakan, dan reformasi yang memperbaiki iklim investasi. Tanpa itu, stabilisasi rupiah hanya akan bersifat sementara dan biaya bagi perekonomian bisa semakin besar," jelas Josua.

Terkait dampaknya terhadap perekonomian nasional, ia menjelaskan bersifat dua sisi, yang mana satu sisi, kenaikan BI-Rate membantu menjaga stabilitas nilai tukar, menahan kenaikan harga barang impor, dan melindungi daya beli masyarakat dari risiko inflasi yang lebih tinggi.

"Di sisi lain, biaya dana perbankan berpotensi naik, bunga kredit bisa lebih sulit turun, dan dunia usaha akan lebih berhati-hati melakukan ekspansi," ujar Josua.

Ia menjelaskan, sektor yang sensitif terhadap bunga seperti properti, otomotif, pembiayaan konsumsi, serta usaha yang banyak memakai pinjaman jangka pendek bisa merasakan tekanan lebih cepat.

"Karena itu, kebijakan ini memang membantu stabilitas, tetapi dapat menambah beban bagi pertumbuhan ekonomi jika berlangsung terlalu lama," ujar Josua.

Baca juga: Rupiah menguat diiringi keputusan BI menaikkan suku bunga

Baca juga: BI-Rate naik di RDG Mingguan sebab pelemahan rupiah lewati proyeksi

Baca juga: Rupiah menguat seiring respon positif pasar atas laporan kinerja APBN

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |