Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian memandang, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026 memberikan sinyal bahwa Bank Indonesia (BI) mulai mempersiapkan tahap berikutnya, yaitu mengubah stabilitas yang tercapai menjadi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Fakhrul menilai, salah satu perubahan yang paling menarik dalam RDG Agustus adalah berkurangnya penekanan terhadap penguatan rupiah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
“Saya melihat BI mulai lebih nyaman dengan kondisi nilai tukar saat ini, dan mulai melakukan ancang-ancang untuk memanfaatkan stabilitas yang sudah terbentuk,” kata Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan bahwa selama beberapa bulan terakhir, BI berada dalam fase stabilisasi dengan fokus utama menjaga kredibilitas kebijakan, memperkuat stabilitas rupiah, dan menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
“Kalau kita membaca perjalanan kebijakan BI sejak Mei hingga Juli, fokus utamanya adalah stabilisasi. Fokusnya adalah memulihkan kredibilitas kebijakan, menjaga stabilitas rupiah, memperkuat neraca eksternal, dan menarik kembali capital inflow. Menurut saya, fase tersebut sebagian besar sudah berhasil dicapai,” jelas Fakhrul.
Namun demikian, menurut Fakhrul, keberhasilan sebuah fase stabilisasi tidak diukur hanya dari keberhasilan menjaga rupiah atau menurunkan volatilitas pasar keuangan.
“Stabilisasi bukan tujuan akhir, stabilisasi adalah fondasi. Setelah fondasi terbentuk, tantangan berikutnya adalah bagaimana stabilitas tersebut diterjemahkan menjadi likuiditas yang lebih sehat, kredit yang lebih efektif, investasi yang meningkat, dan pada akhirnya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” kata dia.
Fakhrul juga menilai, pasar perlu mulai mengalihkan perhatian dari semata-mata arah BI-Rate menuju kondisi likuiditas secara keseluruhan.
"Menurut saya fokus pasar ke depan tidak lagi hanya apakah BI-Rate naik atau turun. Yang lebih penting adalah bagaimana kondisi likuiditas berkembang, bagaimana kurva imbal hasil bergerak, bagaimana kredit tumbuh, dan bagaimana dunia usaha merespons berbagai kebijakan yang sudah dilakukan selama beberapa bulan terakhir,” jelas dia.
Fakhrul juga mengingatkan, tantangan berikutnya bagi BI justru lebih kompleks dibanding fase stabilisasi itu sendiri.
“Selama beberapa bulan terakhir, kebijakan moneter berhasil mengumpulkan likuiditas dan memulihkan kepercayaan pasar keuangan, tetapi pertanyaannya sekarang adalah apakah likuiditas tersebut sudah cukup mengalir kembali ke sektor produktif,” kata dia.
Dalam RDG Agustus, BI secara eksplisit menyampaikan dan memberi apresiasi bahwa pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh stimulus fiskal melalui konsumsi pemerintah dan investasi pemerintah, yang memberikan dampak positif.
Di sisi lain, Fakhrul mengingatkan bahwa pelemahan PMI manufaktur dalam beberapa bulan terakhir juga menunjukkan pentingnya memperkuat kembali investasi dan aktivitas sektor riil.
Oleh sebab itu, menurut dia, keberhasilan fase berikutnya tidak lagi diukur dari stabilitas rupiah semata, melainkan dari kemampuan mentransformasikan stabilitas tersebut menjadi investasi, ekspansi usaha, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan yang lebih seimbang.
“Jika transmisi ini berjalan lambat, kita berisiko memiliki pasar keuangan yang semakin stabil tetapi ekonomi riil yang pulih lebih lambat dari yang diharapkan,” kata Fakhrul.
Baca juga: Rupiah bergerak menguat seiring keputusan BI tahan suku bunga acuan
Baca juga: BI: Net inflow portofolio asing 1,8 miliar dolar AS hingga 14 Agustus
Baca juga: Mentan Amran copot 14 pejabat dugaan penyimpangan miliaran rupiah
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































