Surabaya (ANTARA) - Di jantung Kota Surabaya, Jawa Timur, sebuah bangunan yang lama dikenal sebagai tujuan berburu komputer, gawai, dan perangkat elektronik sedang menunggu babak baru. Eks Hi-Tech Mall, yang sempat kehilangan denyut setelah perubahan perilaku belanja dan perkembangan perdagangan digital, kini disiapkan menjadi ruang pertemuan antara kreativitas, teknologi, usaha kecil, dan energi anak muda.
Rencana pembukaan awal pada 5 Juli 2026 bukan sekadar agenda peresmian gedung. Ia menjadi ujian bagi cara kota memperlakukan ruang yang pernah berjaya, lalu tertinggal. Apakah bangunan lama hanya dipoles agar kembali ramai, atau benar-benar diubah menjadi tempat yang mampu melahirkan kegiatan ekonomi baru?
Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan basement dan lantai dasar untuk tenant makanan dan minuman, industri kreatif, komunitas custom motor dan mobil, serta jenama lokal. Sekitar 18 tenant makanan dan minuman serta 30 tenant industri kreatif disebut telah mengisi ruang awal yang disediakan. Di sisi lain, gedung pertemuan seluas sekitar 3.500 meter persegi juga disiapkan untuk pameran, pertunjukan, dan kegiatan masyarakat.
Pilihan itu menunjukkan bahwa revitalisasi tidak lagi dipahami sebagai proyek fisik semata. Bangunan boleh diperbaiki, eskalator boleh kembali bergerak, dan lampu boleh kembali menyala. Namun, yang menentukan umur sebuah ruang publik adalah alasan orang untuk datang, tinggal, berinteraksi, lalu kembali lagi.
Dari etalase
Hi-Tech Mall pernah tumbuh dalam masa, ketika teknologi masih membutuhkan etalase fisik. Orang datang untuk membandingkan spesifikasi komputer, mencari suku cadang, memperbaiki perangkat, atau sekadar bertanya kepada penjual yang memahami bahasa teknis. Kehadiran toko-toko komputer menjadikan bangunan itu bagian dari ingatan ekonomi digital awal Surabaya.
Namun, pola konsumsi berubah. Pasar digital memudahkan warga membandingkan harga, membaca ulasan, dan membeli barang tanpa harus datang ke pusat perdagangan. Ketika transaksi berpindah ke layar ponsel, pusat belanja yang hanya mengandalkan penjualan produk menjadi lebih rentan kehilangan pengunjung.
Di titik inilah revitalisasi eks Hi-Tech Mall menjadi relevan. Kota tidak perlu memaksa bangunan lama kembali menjadi persis seperti masa lalunya. Hal yang lebih penting ialah menemukan fungsi baru yang menjawab kebutuhan hari ini.
Pemkot Surabaya masih mempertahankan aktivitas perdagangan komputer di lantai dasar. Keputusan itu penting karena menjaga identitas lama bangunan, sekaligus memberi ruang transisi bagi pelaku usaha yang telah lama bertahan.
Namun, identitas tersebut perlu diperluas. Teknologi hari ini tidak hanya hadir dalam bentuk perangkat keras, melainkan juga desain, gim, konten digital, kecerdasan buatan, produksi audiovisual, hingga layanan kreatif berbasis data.
Pemerintah pusat juga menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru. Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong penguatan pelaku usaha, digitalisasi, serta kerja sama pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan investor agar manfaat ekonomi kreatif lebih luas dirasakan masyarakat.
Karena itu, Hi-Tech Mall tidak cukup jika hanya menjadi pusat kuliner dan ruang berkumpul. Ia harus menjadi tempat yang memungkinkan ide bertemu dengan keterampilan, keterampilan bertemu pasar, dan pasar bertemu pembiayaan.
Ekosistem yang diuji
Rencana menghadirkan ruang komunitas, olahraga, pertunjukan, kegiatan pelajar, hingga e-sport memberi gambaran bahwa Hi-Tech Mall diarahkan menjadi ruang publik yang lebih beragam. Keberagaman itu dapat menjadi kekuatan karena pengunjung tidak datang hanya untuk satu tujuan.
Seorang pelajar dapat datang untuk menonton pertunjukan, lalu mengenal karya kreator lokal. Komunitas otomotif dapat memamerkan hasil modifikasi, sementara pelaku kuliner memperoleh arus pengunjung dari kegiatan tersebut. Pelaku usaha digital dapat memanfaatkan acara komunitas untuk memperkenalkan produk dan membangun jaringan.
Efek seperti itulah yang perlu dibangun. Ruang kreatif tidak hidup hanya karena ada tenant, tetapi karena ada pertemuan yang terus berlangsung. Pameran, kelas singkat, kompetisi gim, pasar produk lokal, pemutaran film, pertunjukan seni, hingga forum pencarian kerja dapat menjadi penggerak ritme gedung.
Pengalaman sejumlah kota menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tumbuh lebih kuat ketika tidak berhenti pada festival. Kegiatan yang bersifat sesaat memang dapat mendatangkan keramaian, tetapi keberlanjutan lahir dari program rutin, kurasi yang jelas, dan peluang usaha yang nyata.
Kementerian Ekonomi Kreatif juga menekankan pentingnya pengelolaan ekonomi kreatif berbasis data untuk memetakan kekuatan, kesenjangan, serta prioritas kebijakan. Pendekatan tersebut layak diterapkan di Hi-Tech Mall.
Pemkot Surabaya perlu memiliki ukuran keberhasilan yang lebih luas daripada jumlah pengunjung saat pembukaan. Jumlah tenant yang bertahan setelah masa insentif berakhir, nilai transaksi pelaku usaha, jumlah karya yang masuk pasar, penciptaan lapangan kerja, serta keterlibatan warga sekitar dapat menjadi indikator yang lebih bermakna.
Masa bebas sewa bagi komunitas dan pelaku usaha pada tahap awal dapat menjadi pintu masuk yang baik. Namun, masa itu harus dimanfaatkan untuk membangun model bisnis yang sehat. Tenant tidak boleh hanya bergantung pada subsidi ruang, melainkan perlu dibantu memperkuat pemasaran, pengelolaan keuangan, pengemasan produk, perlindungan kekayaan intelektual, dan akses pembiayaan.
Pemerintah telah menyiapkan alokasi kredit usaha rakyat untuk ekonomi kreatif berbasis kekayaan intelektual pada 2026. Peluang tersebut dapat dijembatani dengan pelaku usaha di Hi-Tech Mall agar ruang kreatif tidak berhenti pada produksi, tetapi juga bertumbuh menjadi usaha yang layak dan berkelanjutan.
Kota yang menghubungkan
Tantangan terbesar revitalisasi bukanlah menyelesaikan pekerjaan konstruksi, melainkan merawat keterhubungan. Hi-Tech Mall harus terhubung dengan kampus, sekolah, komunitas, pasar, dan jaringan industri di luar gedung.
Keterlibatan perguruan tinggi, lembaga riset, dan pelaku industri teknologi perlu diterjemahkan menjadi kegiatan yang dapat diakses publik. Pelatihan desain, pengembangan gim, pemrograman, produksi konten, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan harus membuka jalan bagi anak muda untuk meningkatkan keterampilan dan membangun karier.
Akal imitasi, misalnya, mulai dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan produktivitas dan membuka ruang ekonomi kreatif baru. Namun, pemanfaatannya tetap memerlukan penguatan kemampuan sumber daya manusia serta perlindungan hak kreator.
Hi-Tech Mall dapat mengambil peran sebagai ruang belajar yang dekat dengan warga. Bukan hanya tempat memamerkan teknologi, melainkan tempat warga memahami cara menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Di saat yang sama, pengelola perlu memastikan ruang tersebut inklusif. Anak muda dari berbagai latar belakang harus memiliki peluang yang sama untuk masuk, belajar, memamerkan karya, dan menjual produk. Kurasi tenant harus menjaga kualitas, tetapi tidak boleh berubah menjadi pintu tertutup bagi pelaku usaha kecil yang belum memiliki modal besar.
Bangunan yang dulu dikenal sebagai pusat perangkat elektronik itu, kini memiliki kesempatan menjadi pusat pertemuan manusia, gagasan, dan peluang. Keberhasilannya kelak bukan diukur dari ramainya pembukaan, melainkan dari berapa banyak warga yang pulang membawa keterampilan baru, jejaring baru, dan keyakinan bahwa kreativitas dapat menjadi jalan hidup.
Hi-Tech Mall dapat kembali menyala. Namun, cahaya yang dibutuhkan bukan hanya dari lampu-lampu baru, melainkan dari ekosistem yang memberi ruang bagi Surabaya untuk terus mencipta.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































