Jakarta (ANTARA) - Di balik setiap remitansi terdapat kisah pengorbanan jutaan pekerja migran yang meninggalkan keluarganya demi memperoleh penghasilan lebih baik.
Selama ini remitansi sering dipandang hanya sebagai kiriman uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari: membayar biaya sekolah anak, memperbaiki rumah, membeli kebutuhan pokok, atau membantu orang tua di kampung halaman.
Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi terlalu sempit. Secara ekonomi, remitansi merupakan salah satu sumber pembiayaan pembangunan yang paling stabil dan paling tahan terhadap guncangan global.
Bank Dunia memperkirakan arus remitansi global mencapai sekitar 856 miliar dolar AS pada 2024, dengan sekitar 653 miliar dolar AS mengalir ke negara berpendapatan rendah dan menengah.
Nilai tersebut telah melampaui investasi asing langsung (FDI) maupun bantuan pembangunan resmi (Official Development Assistance/ODA) di banyak negara berkembang. Ketika arus modal asing mudah keluar masuk akibat gejolak pasar dan ketidakpastian geopolitik, remitansi tetap mengalir karena didorong oleh ikatan keluarga dan kebutuhan hidup yang nyata.
Negara-negara seperti India, Meksiko, Filipina, Bangladesh, dan Pakistan telah membuktikan bahwa remitansi dapat menjadi penyangga ekonomi nasional. India menerima lebih dari 120 miliar dolar AS remitansi per tahun dan menjadikannya salah satu sumber devisa terbesar.
Filipina selama bertahun-tahun memanfaatkan remitansi pekerja migran sebagai penopang konsumsi domestik dan stabilitas neraca pembayaran. Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar.
Jutaan pekerja migran Indonesia bekerja di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Timur Tengah. Dana yang mereka kirim menopang pendidikan, kesehatan, perumahan, dan konsumsi jutaan keluarga di berbagai daerah.
Namun potensi remitansi sebagai modal produktif masih belum optimal. Sebagian besar dana habis untuk konsumsi karena sistem keuangan kita belum sepenuhnya mampu menghubungkan remitansi dengan tabungan, investasi, kredit usaha, dan asuransi.
Persoalan lain yang sering luput diperhatikan adalah tingginya biaya pengiriman uang. Walaupun biaya remitansi global telah turun dari lebih dari 9 persen pada 2009 menjadi sekitar 6 persen saat ini, angka tersebut masih jauh lebih mahal dibandingkan transfer domestik.
Remitansi digital rata-rata sekitar 4 persen, sedangkan layanan berbasis tunai masih sekitar 7 persen. Padahal, target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) adalah menurunkan biaya remitansi menjadi di bawah 3 persen.
Perbedaan biaya ini bukan terutama disebabkan oleh teknologi, melainkan oleh struktur pasar dan regulasi. Pembayaran lintas negara masih bergantung pada jaringan correspondent banking sehingga transaksi harus melewati beberapa perantara. Setiap mata rantai menambah biaya, memperlambat proses, dan meningkatkan risiko.
Biaya remitansi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































