Jakarta (ANTARA) - Bekerja atau belajar di kedai kopi kini menjadi kebiasaan yang cukup umum. Laptop dibuka, kopi dipesan, lalu pekerjaan yang sebelumnya terasa sulit dikerjakan di rumah justru bisa selesai lebih cepat.
Bahkan, sampai-sampai ada istilah WFC atau Work From Cafe untuk penyebutan fenomena ini.
Menariknya, kondisi ini tidak selalu berkaitan dengan kopi atau kandungan kafein. Suasana kedai kopi, suara percakapan di sekitar, keberadaan orang lain, hingga perubahan tempat dari rumah ke ruang publik dapat ikut memengaruhi cara seseorang berkonsentrasi.
Lantas, kenapa kedai kopi bisa membuat sebagian orang merasa lebih produktif?
Suasana yang tidak terlalu sepi
Salah satu faktor yang mungkin berperan adalah suara latar atau ambient noise. Kedai kopi biasanya tidak benar-benar sunyi. Ada suara mesin kopi, percakapan pengunjung, musik, hingga aktivitas barista.
Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Consumer Research menemukan bahwa tingkat kebisingan sedang sekitar 70 desibel dapat meningkatkan performa pada tugas yang membutuhkan kreativitas dibandingkan lingkungan yang lebih tenang. Namun, kebisingan yang terlalu tinggi justru dapat mengganggu kreativitas.
Hal ini bisa menjelaskan mengapa sebagian orang justru lebih nyaman bekerja dengan suara latar dibandingkan dalam ruangan yang benar-benar hening.
Tentu, efeknya tidak berlaku untuk semua orang. Ada orang yang bisa berkonsentrasi dengan suara ramai, tetapi ada pula yang justru membutuhkan suasana tenang.
Baca juga: Apa Itu dirty latte? Kopi susu dingin dengan espresso di atas
Berada di sekitar orang yang sedang bekerja
Pernah merasa lebih terdorong untuk mengerjakan tugas ketika melihat orang lain sibuk dengan laptopnya?
Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai social facilitation, yaitu kecenderungan seseorang menunjukkan perubahan perilaku atau performa ketika berada di sekitar orang lain.
Penelitian mengenai penggunaan kedai kopi sebagai tempat bekerja menemukan bahwa sebagian pengunjung memang datang untuk bekerja atau belajar secara individual. Menariknya, mereka tetap dapat merasakan semacam kebersamaan karena berada di tengah orang-orang yang melakukan aktivitas serupa, meskipun tidak saling berinteraksi.
Sederhananya, ketika melihat orang lain fokus bekerja, kita bisa ikut terdorong untuk melakukan hal yang sama.
Kedai kopi memberi batas antara santai dan bekerja
Rumah biasanya identik dengan istirahat. Ada tempat tidur, televisi, kulkas, pekerjaan rumah, atau berbagai hal lain yang mudah mengalihkan perhatian.
Ketika berpindah ke kedai kopi, suasananya berubah. Perjalanan menuju tempat tersebut, memilih meja, membuka laptop dan menyiapkan pekerjaan bisa menjadi semacam tanda bagi otak bahwa sudah waktunya masuk ke mode produktif.
Penelitian tentang penggunaan kedai kopi sebagai ruang kerja juga menemukan bahwa orang memilih tempat tersebut antara lain untuk meningkatkan produktivitas, belajar, bekerja, dan mendapatkan perubahan suasana dari rumah.
Dengan kata lain, kadang yang dibutuhkan bukan meja kerja baru, melainkan perubahan suasana.
Baca juga: Bahaya kopi sachet bagi yang terlalu sering meminumnya, ini risikonya!
Ada sedikit dorongan untuk segera menyelesaikan pekerjaan
Kedai kopi juga memiliki batas waktu yang secara tidak langsung dapat membuat seseorang lebih fokus.
Misalnya, seseorang tahu bahwa ia hanya akan berada di kedai kopi selama beberapa jam. Kondisi tersebut dapat membuatnya lebih terdorong menentukan pekerjaan apa yang harus diselesaikan sebelum pulang.
Berbeda dengan bekerja di rumah yang terasa tidak memiliki batas waktu. Ketika masih ada waktu sepanjang hari, pekerjaan bisa lebih mudah ditunda dengan alasan "nanti saja".
Aroma dan suasana ikut membentuk pengalaman
Produktivitas juga tidak selalu berkaitan dengan faktor kognitif. Lingkungan yang terasa nyaman dapat memengaruhi pengalaman seseorang ketika bekerja.
Pencahayaan, suhu ruangan, suara latar, aroma kopi dan suasana tempat secara keseluruhan dapat membuat aktivitas bekerja terasa lebih menyenangkan. Penelitian mengenai lingkungan kerja juga menunjukkan bahwa kualitas pengalaman sensorik suatu ruang berkaitan dengan persepsi terhadap produktivitas.
Itulah sebabnya ada orang yang merasa lebih mudah mendapatkan ide ketika duduk di kedai kopi dibandingkan ketika berjam-jam berada di kamar.
Baca juga: 8 tanda kebanyakan minum kopi yang sering tidak disadari
Bukan berarti kedai kopi selalu lebih produktif
Meski begitu, efek "lebih produktif di kedai kopi" tidak berlaku untuk semua orang.
Kedai yang terlalu ramai, musik yang terlalu keras atau percakapan di sekitar justru dapat mengganggu konsentrasi. Terlebih jika pekerjaan membutuhkan fokus mendalam atau membaca materi yang rumit.
Jadi, tidak perlu memaksakan diri bekerja di kedai kopi hanya karena tren work from cafe sedang populer. Kalau justru lebih fokus di kamar, perpustakaan atau ruang kerja yang tenang, itu juga pilihan yang valid.
Jadi, kenapa kedai kopi bisa bikin lebih produktif?
Ada beberapa kemungkinan alasan, mulai dari suara latar yang pas, keberadaan orang lain yang sedang bekerja, perubahan suasana, batas waktu hingga rasa nyaman dari lingkungan tersebut.
Kopi sendiri mungkin ikut membantu kewaspadaan jika mengandung kafein, tetapi produktivitas di kedai kopi tampaknya tidak hanya soal minuman yang ada di atas meja.
Pada akhirnya, tempat kerja terbaik adalah tempat yang membuat seseorang bisa mempertahankan fokus tanpa terlalu banyak gangguan. Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin kedai kopi. Bagi yang lain, bisa jadi justru kamar sendiri.
Baca juga: Kenapa saat stres kita ingin minum kopi? Ini alasannya
Baca juga: Kopi bikin dehidrasi atau tidak? Ini penjelasan faktanya
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































