Makassar (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengatakan pengembangan varietas tanaman baru oleh peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar merupakan sebuah terobosan untuk meningkatkan kemandirian pangan nasional.
Arif Satria di Makassar, Senin, mengatakan pada era perubahan iklim yang terjadi saat ini, memang membutuhkan varietas-varietas tanaman yang mampu beradaptasi dengan kondisi yang terjadi.
Baca juga: Kementan dorong petani manfaatkan varietas padi adaptif hadapi kemarau
"Dengan era perubahan iklim ini semakin diperlukan varietas-varietas baru yang bisa resisten terhadap perubahan iklim, hemat air, hemat pupuk, dan termasuk di dalamnya adalah yang resisten terhadap berbagai penyakit," ujarnya pada Konferensi Internasional Sustainable Development Goals (SDGs) dalam rangkaian Milad ke-72 UMI.
Ia menjelaskan semakin banyak muncul riset varietas baru merupakan hal yang penting. BRIN juga akan berusaha untuk memfasilitasi pengembangan varitas agar bisa memperkuat pangan nasional.
Tapi, yang lebih penting lagi adalah bukan sekadar menghasilkan varietas, namun bagaimana varietas itu bisa diaplikasikan di lapangan. Itu lebih penting lagi.
"Ini sebuah terobosan yang harus kita terus lakukan karena varietas ini harus terus kita perkuat untuk meningkatkan kemandirian pangan kita. Namun, yang paling penting bisa diaplikasi di lapangan," ujarnya.
Baca juga: BRMP luncurkan delapan varietas unggul baru perkuat kemandirian pangan
Baca juga: Menko Pangan ajak perguruan tinggi ciptakan varietas tanaman baru
Rektor UMI Prof Dr Hambali Thalib dalam sambutannya pada kegiatan internasional itu mengatakan per tanggal 4 Juni 2026, UMI telah menghasilkan 85 permohonan paten, 45 paten tergranted, 511 hak cipta terdaftar dan dua merek terdaftar.
"Selain itu, satu perlindungan varietas tanaman yang sedang memasuki tahapan atau tahap pelepasan varietas," ujarnya.
Pewarta: Abdul Kadir
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































