Jakarta (ANTARA) - Pusat Riset Botani Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitian terhadap kayu raru (Vatica perakensis) yang lama dimanfaatkan masyarakat Batak sebagai campuran minuman tradisional (tuak) dan dipercaya membantu menurunkan kadar gula darah.
Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN Gunawan Trisandi Pasaribu menjelaskan bahwa ekstrak kayu raru memiliki sifat antioksidan dan berpotensi menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase, enzim yang berperan dalam pemecahan karbohidrat menjadi glukosa.
"Untuk meningkatkan efektivitasnya, ekstrak kulit kayu raru kami kombinasikan dengan karbon aktif berbahan dasar mocaf (tepung singkong termodifikasi) yang berfungsi sebagai pembawa (carrier) zat aktif," katanya melalui keterangan di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan karbon aktif tersebut, diproduksi melalui proses pemanasan khusus hingga membentuk struktur berpori sangat halus. Struktur ini diharapkan mampu membawa dan melepaskan senyawa aktif dari ekstrak raru secara lebih efektif di dalam tubuh.
Baca juga: BRIN paparkan potensi dan manfaat lengkuas sebagai bahan baku obat
Ia menjelaskan penelitian dilakukan menggunakan tikus jantan yang diinduksi menjadi diabetes. Hewan uji dibagi ke dalam beberapa kelompok, termasuk kelompok kontrol, kelompok yang diberi ekstrak raru tunggal, serta kelompok kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif dengan rasio berbeda.
Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak raru tunggal mampu menurunkan kadar gula darah sebesar 21,94 persen. Kombinasi ekstrak raru dan karbon aktif mocaf menunjukkan penurunan sebesar 18,85 persen pada rasio 75:25 dan 14,97 persen pada rasio 50:50.
Penelitian sebelumnya juga membuktikan bahwa ekstrak raru mampu menghambat aktivitas enzim alfa-glukosidase secara in-vitro hingga lebih dari 90 persen. Aktivitas ini diduga berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik di dalamnya.
"Analisis farmakokinetik, mekanisme kerja secara rinci, serta aspek keamanan penggunaan masih perlu dikaji lebih lanjut sebelum memasuki tahap uji klinis pada manusia," ujarnya.
Ia menegaskan riset ini menjadi langkah awal penting dalam mengangkat kearifan lokal sebagai sumber inovasi obat herbal berbasis sains.
"Ke depan, tim peneliti akan melakukan analisis fitokimia untuk mengidentifikasi senyawa aktif, mengoptimalkan sistem penghantaran zat aktif, serta memperdalam kajian mekanisme kerja dan aspek keamanan," demikian Gunawan Trisandi Pasaribu.
Baca juga: BPOM: Indonesia baru miliki 71 produk Obat Herbal Terstandar
Baca juga: Mengatasi flu dengan bantuan bahan alami
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: M. Hari Atmoko
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































