Jakarta (ANTARA) - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong optimalisasi pemanfaatan teknologi satelit dan geoinformatika sebagai pilar utama dalam mendeteksi dan mengatasi krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.
Dalam diskusi yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu, Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Rokhis Khomarudin menjelaskan bahwa teknologi geoinformatika sebagaimana yang dikembangkan oleh BRIN menjalankan peran krusial dalam penanganan karhutla.
Peran yang pertama adalah sebagai sistem peringatan dini (early warning system) yang diturunkan melalui model prediksi cuaca.
"Kita bisa membangun indeks cuaca kebakaran dan potensi kekeringan, bisa dipantau harian untuk memprediksi resiko kebakaran sebelum terjadi," katanya.
Rokhis menambahkan bahwa model pemantauan iklim ini telah dikembangkan dan kini dioperasionalkan secara penuh oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Peran yang kedua adalah pemantauan langsung terhadap indikator terjadinya karhutla melalui pelacakan titik panas (hotspot). Menurut dia, teknologi satelit yang ada mampu mendeteksi kemunculan titik panas setiap harinya di seluruh wilayah Indonesia guna memetakan potensi api.
Baca juga: BRIN tekankan pengendalian penyakit pascabencana tak bisa dipukul rata
Untuk menjamin keterbukaan data dan memudahkan akses informasi bagi masyarakat luas, pihak BRIN juga telah menyediakan platform pemantauan digital berbasis web yang bisa diakses secara bebas.
Adapun peran ketiga dari geoinformatika adalah kemampuannya untuk mengestimasi dan memetakan luasan area hutan yang telah hangus terbakar. Rokhis menyebut analisis luasan ini dikerjakan menggunakan tangkapan citra satelit beresolusi tinggi, seperti Landsat serta satelit Sentinel 1 dan 2.
Hasil penghitungan luasan area terdampak karhutla tersebut kemudian diserahkan secara rutin setiap bulannya kepada Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sebagai pemangku kebijakan dan otoritas resmi.
Merespons dukungan data geoinformatika tersebut, Kepala Bagian Pelayanan dan Penyajian Informasi Publik, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) Agus Yasin, menegaskan bahwa pasokan data hotspot harian dari satelit sangat krusial digunakan sebagai peringatan dini.
Meski demikian, ia memberikan catatan bahwa seluruh data titik panas tersebut tetap wajib ditindaklanjuti dengan proses verifikasi lapangan yang akurat.
Hal ini dilakukan Kemenhut dengan mengerahkan drone thermal dan kamera pengawas (CCTV) jarak jauh untuk memastikan apakah titik panas tersebut adalah titik api sesungguhnya, mengingat material seperti atap seng rumah warga juga kerap terdeteksi satelit sebagai hotspot.
"Misalnya terjadi kejadian titik hotspot, itu hotspot-nya ini benar-benar fire spot? Atau hanya panas biasa? Karena biasanya kalau misalnya di Sumatera, di Kalimantan, banyak juga rumah-rumah penduduk yang pakai atap seng, itu juga kadang kala teridentifikasi sebagai hotspot," ucap Agus Yasin.
Baca juga: Ahli UGM : salah kelola lahan dapat perparah dampak cuaca ekstrem
Baca juga: BRIN peringatkan risiko amplifikasi ekologi dan wabah pascabencana
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































