BPS catat Gini Ratio penduduk Riau pada September 2025 sebesar 0,304

2 weeks ago 9

Pekanbaru, Riau (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk di daerah setempat yang diukur dengan Gini Ratio pada September 2025 sebesar 0,304 atau masih terkendali.

Kepala BPS Riau Asep Riyadi mengatakan angka tersebut menurun 0,003 poin
dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2025 yang sebesar 0,307 dan menurun 0,002 poin dibandingkan September 2024 yang sebesar 0,306.

"Rasio Gini sempat mengalami
peningkatan pada Maret 2025, namun kembali menurun menjadi 0,304 pada September 2025, yang menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran penduduk secara keseluruhan
semakin terkendali," katanya di Pekanbaru, Riau, Jumat.

Lebih rinci, ia menjelaskan hal tersebut merupakan gabungan Rasio Gini perkotaan dan pedesaan. Gini Ratio di daerah perkotaan Provinsi Riau pada September 2025 tercatat sebesar 0,337, turun dibanding Gini Ratio Maret 2025 yang sebesar 0,345 dan naik dibanding Gini Ratio September 2024 yang sebesar 0,333.

Sementara itu, Gini Ratio di daerah perdesaan Provinsi Riau pada September 2025 tercatat sebesar 0,268. Angka itu dibanding Gini Ratio Maret 2025 yang sebesar 0,267 dan turun dibanding Gini Ratio September 2024 yang sebesar 0,271.

Asep menambahkan selain Gini Ratio, ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran Bank Dunia.

Berdasarkan ukuran ini, tingkat ketimpangan dibagi menjadi 3 kategori, yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12–17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17 persen.

Berdasarkan itu distribusi pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah di Riau adalah sebesar 22,31 persen. Hal ini berarti distribusi pengeluaran penduduk pada September 2025 berada pada kategori tingkat ketimpangan rendah.

"Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 21,40 persen yang berarti tergolong pada kategori ketimpangan rendah. Begitu pula di daerah perdesaan, angkanya tercatat sebesar 23,45 persen yang juga tergolong pada ketimpangan rendah," ungkapnya.

Pewarta: Bayu Agustari Adha
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |