Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyatakan Program Lansia Berdaya atau Sidaya dapat mewujudkan komunitas lanjut usia (lansia) yang produktif dalam rangka meraih bonus demografi kedua di Indonesia.
Direktur Bina Ketahanan Keluarga Lanjut Usia dan Rentan Kemendukbangga Elsa Pongtuluran mengatakan pemberdayaan lansia menjadi kunci penting dalam menyongsong bonus demografi kedua Indonesia di tengah meningkatnya angka populasi lansia nasional.
"Kelompok lansia ini tidak hanya dipandang sebagai penerima manfaat, tetapi juga memiliki potensi untuk berkontribusi dalam pembangunan, inilah dasar konsep bonus demografi kedua. Kita perlu peningkatan pendidikan, keterampilan, dan kesehatan sepanjang hayat agar lansia tetap berdaya," kata Elsa dalam dialog ruang tengah bersama media di Jakarta, Selasa.
Program Sidaya mencakup pemeriksaan kesehatan, pendampingan berbasis keluarga melalui Bina Keluarga Lansia, Sekolah Lansia sebagai wadah pembelajaran sepanjang hayat, hingga pelatihan ekonomi produktif melalui program lansia wirausaha.
Baca juga: Mendukbangga: Sekolah Lansia cegah penduduk menua kesepian
Selain itu pemerintah juga menyiapkan Kartu Sidaya yang berfungsi sebagai identitas lansia, sekaligus akses berbagai layanan dan insentif, termasuk potongan biaya transportasi, pelatihan vokasi, literasi digital, hingga peluang kerja bagi lansia.
Elsa mengatakan program tersebut juga melibatkan lintas kementerian dan mitra kerja karena tenaga kerja lansia mulai diperhitungkan dalam pasar kerja nasional.
Berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, proporsi lansia Indonesia telah mencapai 11,97 persen. Bahkan sebanyak 23 provinsi sudah memasuki fase populasi menua atau aging population dengan persentase penduduk lansia di atas 10 persen.
Menurutnya, Indonesia saat ini tengah mengalami transisi demografi, yakni meningkatnya jumlah usia produktif diiringi penurunan angka kelahiran. Pada tahap awal kondisi tersebut menjadi bonus demografi pertama yang berpotensi mendorong percepatan ekonomi.
Baca juga: Mendukbangga: Sidaya solusi untuk lansia sehat dan anti-kesepian
"Namun seiring bertambahnya jumlah lansia, Indonesia perlu mempersiapkan bonus demografi kedua, yakni ketika kelompok lanjut usia tetap produktif melalui tabungan, investasi, serta kontribusi sosial dan ekonomi," ucap Elsa.
Ia menjelaskan fenomena populasi menua terjadi karena meningkatnya angka harapan hidup dan menurunnya fertilitas. Kondisi itu dipengaruhi oleh keberhasilan program Keluarga Berencana (KB), penurunan kematian bayi, membaiknya akses pendidikan, bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya kesetaraan gender, hingga semakin terjangkaunya fasilitas kesehatan.
Ia menilai peningkatan jumlah lansia dapat menjadi beban sosial dan ekonomi apabila tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. Karena itu pemerintah mendorong lansia tetap sehat, mandiri, dan produktif.
Sebagai upaya konkret, Kemendukbangga/BKKBN menjalankan Program Sidaya untuk meningkatkan kualitas hidup lansia menuju Indonesia Emas 2045.
Baca juga: Kemendukbangga asah produktivitas lansia dukung ekonomi lewat Sidaya
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































