Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan peristiwa gempa bumi yang mengguncang wilayah Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa siang, dipicu adanya aktivitas pada zona tumbukan Lempeng Indo-Australia.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Gempa bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono di Jakarta, Selasa, menjelaskan hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya aktivitas pada zona tumbukan Lempeng Indo-Australia," kata dia.
Baca juga: Gempa M6,0 guncang Timor Tengah Utara NTT Selasa siang
Rahmat merinci hasil analisis BMKG menunjukkan parameter pemutakhiran gempa tersebut memiliki magnitudo M5,7.
Episenter gempa terletak pada koordinat 9,22 derajat Lintang Selatan (LS) dan 124,16 derajat Bujur Timur (BT), tepatnya berlokasi di laut pada jarak 54 kilometer arah barat laut Timor Tengah Utara pada kedalaman 60 kilometer.
Gempa yang terjadi pada pukul 10.17 WIB tersebut dilaporkan berdampak dan dirasakan di daerah Atambua dengan skala intensitas III-IV MMI, serta daerah Maumere dengan skala intensitas III MMI, dimana getaran dirasakan nyata dalam rumah seakan-akan truk berlalu.
Baca juga: Gempa berkekuatan magnitudo 5,3 guncang Sarmi, Papua
Selain itu guncangan juga dirasakan di Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Kefamenanu, Malaka, Soe, Lembata, Larantuka, Alor, dan Ende, dengan skala intensitas II-III MMI. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami.
Hasil monitoring BMKG mencatat telah terjadi satu kali aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo M3,2 setidaknya sampai dengan pukul 10.45.
Pihaknya mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, serta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
Baca juga: Gempa magnitudo 7,4 di Jepang, Kemlu pastikan tak ada WNI jadi korban
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































