Bimoky bawa karakter robot Batik seperti sosok ayah di dunia nyata

3 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Aktor pengisi suara Bimo Kusumo atau yang dikenal dengan Bimoky mengatakan dirinya membawa karakter robot bernama Batik dalam film “Pelangi di Mars” sebagai sosok ayah yang melindungi anaknya dan terasa dekat dengan kehidupan keluarga sehari-hari.

“Dari memandang Batik sebagai sosok pelindungnya Pelangi, kalau mau di-relate-kan di dunia nyata ya seperti orang tua bagi anak-anak yang nanti menonton,” kata Bimo saat ditemui dalam acara intimate screening film Pelangi di Mars di Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan dalam membangun karakter robot Batik, dirinya mengambil pengalaman pribadi sebagai seorang ayah yang memiliki anak yang harus dilindungi. Meski digambarkan sebagai robot, ia berusaha menghadirkan sosok Batik melalui suara yang terasa personal dan relevan dengan figur ayah di dunia nyata.

Baca juga: Pelangi di Mars wujud keberanian sineas eksplorasi genre dan teknologi

Dalam proses pengembangan karakter suara Batik, Bimo mengaku sempat mengalami kesulitan karena harus melakukan pengambilan vokal selama sekitar satu minggu dengan tipe suara berat yang menggambarkan robot rusak sehingga membuat suaranya kerap serak.

“Totalnya dari suaranya itu sekitar seminggu. Tapi dari pagi sampai malam. Bahkan ada satu hari aku sempat menyerah karena dari pagi suara sudah serak banget. Basic-nya deep voice, tapi turunannya banyak. Jadi nggak bisa terlalu deep, nggak bisa terlalu naik juga,” ujar Bimo.

Baca juga: Wamenekraf dorong IP lokal dengan pendekatan kolaborasi hexahelix

Bimo mengaku bersyukur dapat terlibat dalam film tersebut karena sekaligus memperkenalkan profesi pengisi suara sebagai bagian dari talenta kreatif dalam produksi film animasi.

Ia juga menilai penggunaan teknologi extended reality (XR) dalam film Pelangi di Mars dapat menjadi standar baru bagi perkembangan film nasional yang menggabungkan unsur fiksi ilmiah, live action, dan visual virtual.

“Yang terjadi kan kita selalu dibandingkan, ‘wah ini masih jauh sama Hollywood’. Mungkin mindset-nya bisa diubah, bahwa film Indonesia ternyata sudah sampai di tahap ini. Kalau kita menghargai setiap proses dan karya yang lahir, harapannya ini bisa jadi pemantik untuk karya yang lebih bagus ke depan,” kata Bimo.

Baca juga: Film “Pelangi di Mars” sapa publik lewat balon raksasa

Baca juga: Film "Pelangi di Mars" dijadwalkan tayang di bioskop pada 18 Maret

Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |