Jakarta (ANTARA) - Siklon Senyar yang menghantam Sumatera pada akhir November 2025 merupakan badai langka nan dahsyat.
Badai tersebut terbentuk di atas lautan yang memanas, menghembuskan angin yang cepat, dan menurunkan curah hujan lebih dari 300 mm dalam sehari.
Hasilnya adalah malapetaka banjir bandang dan tanah longsor yang menewaskan lebih dari 1.100 jiwa dan yang mengungsi lebih dari satu juta orang.
Namun, badai itu hanyalah pemicu. Skala kehancurannya, aliran lumpur masif, tanah longsor, banjir yang membawa gelondongan kayu yang menghancurkan rumah-rumah, menunjuk pada penyebab buatan manusia yaitu deforestasi selama beberapa dekade.
Bencana banjir bandang di Sumatera adalah tanda keruntuhan ekosistem, bukan sekadar fenomena alam. Siklus air, hutan, dan tanah yang seharusnya saling mendukung telah runtuh.
Proses hidrologinya sederhana untuk dijelaskan. Hutan bukan sekedar kumpulan pohon, tapi bertindak sebagai penyangga banjir. Kanopinya mencegat hujan, akarnya mengikat tanah, dan lantai hutannya yang berpori menyerap air. Sistem ini memperlambat limpasan, mengurangi puncak aliran banjir, dan mencegah erosi.
Lahan yang terdeforestasi kehilangan fungsi-fungsi ini. Tanpa akar, tanah menjadi tidak stabil. Tanpa penutup tanah, hujan langsung menerjangi tanah. Tanpa lantai yang seperti spons, air hujan kurang bisa diresap.
Akibatnya, air melaju di permukaan, volume dan kecepatan bertambah seraya mengikis tanah hingga memicu tanah longsor. Hasilnya bukan sekadar banjir, tetapi juga aliran puing yang menghancurkan.
Baca juga: Pakar IPB ungkap anomali siklon tropis pemicu cuaca ekstrem Sumatera
Baca juga: Peringatan dini siklon di Sumatera sudah dilakukan 8 hari sebelumnya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































