Jakarta (ANTARA) - Gempuran tren fesyen yang kian kompleks serta pergeseran preferensi konsumen menuju gaya yang lebih modern dan digital, membuat jenama batik asal Solo, Batik Keris, mengharmonisasikan pendekatan budaya (heritage) dan teknologi (tech) dengan memperkuat eksistensinya di pasar digital.
"Kami memahami bahwa keberlanjutan sebuah merek legendaris sangat bergantung pada kemampuannya menyinkronkan ritme sejarah dengan derap teknologi. Bertahan saja sudah merupakan sebuah pencapaian, namun Batik Keris memilih untuk melangkah lebih jauh,” tegas Direktur Batik Keris Andy Rusli dalam keterangan pers yang diterima, Sabtu.
Dia mengatakan berbagai upaya untuk terus berkembang telah dilakukan dengan membaca perubahan perilaku konsumen, memanfaatkan kanal distribusi modern, serta menjaga keseimbangan antara inovasi dan autentisitas
Andy mengatakan sejak awal, Batik Keris meyakini bahwa batik tidak boleh berhenti sebagai artefak budaya. Batik harus terus hidup, dipakai, dirayakan, dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat.
Baca juga: Danar Hadi lestarikan warisan budaya di koleksi terbaru Sekar Setaman
Meski berjaya di pasar offline dengan lebih dari 80 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia sejak 1920-an, estafet perjuangan terus berlanjut hingga generasi penerusnya.
Keinginannya untuk tetap relevan bagi generasi muda yang hidup di dunia digital, menjadi roda motivasi untuk terus berkembang.
Langkah-langkah heritage tech dalam menjaga relevansi budaya di era modern ini diwujudkan dengan menciptakan koleksi modern- classic ready to wear yang dibuat cocok untuk semua kalangan.
Andy juga mengatakan Batik Keris selalu menjaga loyalitas pelanggan dengan mempertahankan kualitas selama puluhan tahun mulai dari pengembangan kain (katun kualitas ekspor, rayon, sutra, hingga viscose), proses kreatif motif oleh desainer internal (in-house designer), pembatikan, penjahitan, hingga distribusi ke seluruh jaringan toko, semuanya dilakukan dengan standar kualitas yang ketat.
"Kualitas kami ini terbukti, karena memang banyak pelanggan yang datang kembali ke toko mengenakan baju Batik Keris yang mereka beli 20 atau 25 tahun lalu, dan warnanya tetap bagus. Bahkan beberapa anak muda mengenakan baju Batik Keris turunan dari orang tuanya" tambah Andy.
Baca juga: Sambut Imlek, Hadinata Batik perkenalkan "Lunar Porcelain Collection"
Menjawab tantangan era digital, Batik Keris juga memanfaatkan ekosistem digital untuk meningkatkan daya tarik pasar lebih luas lewat kehadiran toko resmi Batik Keris di Shopee sejak tahun 2021.
Dengan strategi yang tepat bersama Shopee, teknologi justru menjadi instrumen untuk menjaga identitas bangsa agar tetap eksis dan kompetitif di kancah global.
Andy mengatakan langkah ini bukan sekadar membuka toko daring, keseriusan Batik Keris di ranah digital juga dilakukan lewat terbentuknya tim khusus yang fokus mengelola strategi penjualan dan komunikasi digital.
Eksistensi Batik Keris tidak hanya tentang bisnis, tapi juga tentang pemberdayaan komunitas. Melalui unit komunitas mereka, Keris Griya, Batik Keris membina UMKM dan seniman lokal dari berbagai daerah dan membantu memasarkan hasil kerajinan tangan mereka. Mulai dari kriya tekstil, kriya kayu, hingga keramik. Komitmen ini bahkan telah diakui pemerintah melalui penghargaan Upakarti sejak tahun 1985.
Baca juga: Resona Saintek UK Maranatha kenalkan inovasi batik untuk UMKM
Baca juga: Lestarikan budaya lokal, Batik Siger terus berkembang bersama Rumah BUMN BRI
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































