Denpasar (ANTARA) - Bali kembali menunjukkan perannya sebagai tuan rumah pertemuan internasional dengan menjadi tuan rumah forum pertukaran pengetahuan tentang teknologi mutakhir untuk sistem padi dan peternakan rendah emisi.
Perwakilan pemerintah, lembaga riset, organisasi internasional, akademisi, dan pelaku sektor pertanian dari berbagai negara Asia dan Afrika berkumpul di Sanur, Denpasar, Bali, Rabu.
Dalam forum internasional tersebut para peserta bertukar pengetahuan tentang teknologi mutakhir untuk sistem padi dan peternakan rendah emisi.
Kegiatan yang merupakan bagian dari FSIP-FOLUR Second Global Dialogue on Sustainable Rice Transformation tersebut menjadi wadah berbagi pengalaman, inovasi, dan strategi dalam menjawab tantangan ketahanan pangan serta perubahan iklim yang semakin kompleks.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari mengatakan forum tersebut hadir untuk menjembatani kesenjangan antara berbagai komitmen global pengurangan emisi dengan implementasi nyata di tingkat petani.
Menurutnya, negara-negara berkembang menghadapi tantangan serupa dalam upaya menekan emisi sektor pertanian, mulai dari keterbatasan akses teknologi, kapasitas sumber daya manusia, hingga minimnya pendanaan iklim.
"Yang kita lakukan di sini bukan membangun struktur baru, tetapi menghubungkan jaringan yang telah bekerja selama ini, sehingga tercipta pertukaran pengetahuan yang lebih kuat antara Asia dan Afrika," ujarnya.
Puji menjelaskan sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan menyumbang sekitar 22 persen emisi global.
Namun, sektor tersebut masih menerima porsi pendanaan iklim yang relatif kecil dibanding kebutuhan transformasi yang harus dilakukan.
Ia menjelaskan melalui forum ini, peserta membahas berbagai teknologi dan praktik pertanian rendah emisi yang telah diterapkan di sejumlah negara.
Mulai dari pengelolaan air pada lahan sawah, peningkatan efisiensi penggunaan pupuk, pemanfaatan teknologi digital, hingga sistem pemantauan emisi yang lebih akurat dan mudah diterapkan oleh petani.
Selain pertukaran teknologi, forum juga diarahkan untuk memperkuat kerja sama Selatan-Selatan atau South-South Cooperation antara negara-negara Asia dan Afrika.
Kerja sama tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi inovasi dan memperluas akses terhadap sumber pembiayaan bagi sektor pertanian.
Puji menambahkan, salah satu tujuan utama forum adalah menghasilkan langkah-langkah konkret yang dapat ditindaklanjuti setelah kegiatan berakhir, termasuk harmonisasi sistem pemantauan emisi, penguatan hubungan antara teknologi dan kebijakan nasional, serta pengembangan paket investasi yang mendukung pertanian rendah emisi.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, peserta juga dijadwalkan mengunjungi sistem subak di Bali yang telah diakui dunia sebagai contoh pengelolaan pertanian berbasis kearifan lokal dan keberlanjutan.
Melalui forum tersebut, Bali tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan pertemuan internasional, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan dan pengalaman dari negara-negara berkembang dalam membangun masa depan sistem pangan yang lebih tangguh, produktif, dan rendah emisi.
Baca juga: BRIN: Subak Bali contoh global pengelolaan pertanian rendah emisi
Baca juga: Kemenko Pangan: Petani aktor transformasi pertanian rendah emisi
Pewarta: Rolandus Nampu
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































