Washington (ANTARA) - Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Selasa membahas Operation Economic Outcast untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan Menteri Keuangan dan Ekonomi Nasional Bahrain Salman bin Khalifa Al Khalifa.
Dalam pertemuan tersebut, Bessent menekankan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan mengancam perdagangan internasional atau menggunakan Selat Hormuz sebagai alat untuk menekan perekonomian global.
Dia juga menekankan perlunya mempertahankan tekanan finansial terhadap Iran secara berkelanjutan.
Kedua pejabat sepakat melanjutkan koordinasi antara AS, Bahrain, dan negara-negara Teluk untuk memerangi aliran dana ilegal serta memperkuat keamanan ekonomi.
"Menlu Bessent juga menyambut baik kemitraan Bahrain yang telah berlangsung lama dan komitmen berkelanjutannya untuk menjaga integritas sistem keuangan internasional," kata Departemen Keuangan AS.
Sehari sebelumnya, Bessent mengatakan sanksi sektoral baru AS menargetkan lima jalur utama pembiayaan luar negeri Iran, termasuk aset digital, teknologi, perdagangan emas, penerbangan, dan transportasi maritim.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin mengatakan Teheran akan menggunakan seluruh kemampuannya untuk menghadapi tekanan ekonomi Washington. Iran menilai satu-satunya pilihan bagi AS adalah melakukan dialog dengan rakyat Iran secara saling menghormati.
AS dan Israel mulai menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, yang kemudian dibalas dengan serangan Iran. Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan.
Namun, kedua pihak kembali saling menyerang tak lama setelah kesepakatan tersebut. Konflik kemudian berlanjut tanpa permusuhan aktif, sementara Washington memilih meningkatkan tekanan ekonomi untuk mendorong penyelesaian konflik.
Tekanan tersebut diarahkan untuk menciptakan kesulitan finansial bagi Teheran dan mendorong Iran mengakhiri konflik melalui jalur ekonomi.
Sumber: Sputnik
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































