Analis: KTT Ankara cerminkan rapuhnya persatuan NATO

2 weeks ago 8

Ankara (ANTARA) - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO yang berlangsung selama dua hari resmi ditutup di Ankara pada Rabu (8/7), dengan para pemimpin aliansi menggambarkan pertemuan tersebut sebagai perwujudan persatuan.

Kendati demikian, para analis mengatakan KTT tersebut tidak menyelesaikan perselisihan yang telah lama terjadi di antara negara-negara anggota NATO, dengan negara-negara Eropa kemungkinan akan mempercepat upaya menuju otonomi strategis yang lebih besar.

KTT itu digelar di tengah ketegangan yang terus berlanjut di dalam aliansi tersebut, terutama terkait pengeluaran pertahanan, pembagian beban, dan perbedaan pendekatan terhadap konflik Iran.

Di sela-sela KTT tersebut, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan pada Selasa (7/7) bahwa dirinya "sangat kecewa" dengan aliansi itu, mengeklaim beberapa anggota NATO menolak untuk mendukung tujuan-tujuan utama militer AS.

Seorang anak berjalan melewati papan reklame KTT NATO di Ankara, Turki, 29 Juni 2026. (Xinhua/Mustafa Kaya)

"KTT itu tidak menghilangkan perbedaan di dalam NATO. Sebaliknya, KTT itu hanya membatasi perbedaan-perbedaan tersebut pada isu-isu tertentu," kata Ali Oguz Dirioz, lektor kepala bidang Hubungan Internasional di Universitas TOBB Ankara, kepada Xinhua.

"Perpecahan masih tetap ada, tetapi negara-negara anggota sedang belajar untuk hidup berdampingan dengan perbedaan-perbedaan tersebut," ujarnya.

Dirioz mengatakan bahwa salah satu tren penting yang muncul dari KTT tersebut adalah langkah bertahap Eropa menuju otonomi strategis yang lebih besar di dalam aliansi, yang sebagian didorong oleh tuntutan lama AS mengenai pembagian beban yang lebih adil.

"Negara-negara Eropa di dalam NATO kemungkinan akan berkembang menuju postur pertahanan yang lebih otonom karena kritik terus-menerus dari Washington terkait pembagian beban," katanya.

Oytun Orhan, peneliti senior di Pusat Studi Timur Tengah yang berbasis di Ankara, mengatakan para pemimpin NATO menunjukkan persatuan selama KTT tersebut, tetapi sejumlah perbedaan mendasar sebagian besar masih belum terselesaikan.

"Para pemimpin NATO menunjukkan solidaritas, tetapi sebagian besar masalah internal aliansi itu tampaknya masih tetap ada," ujar Orhan.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte (kiri), Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kanan), dan Presiden AS Donald Trump berpose untuk foto di KTT NATO 2026 di Ankara, Turki, pada 8 Juli 2026. (Xinhua/Mustafa Kaya)

Dia mengatakan berbagai perbedaan pendapat muncul dalam KTT itu, menyebut soal kritik Trump terhadap Spanyol terkait pengeluaran pertahanan serta ancamannya untuk menerapkan langkah-langkah perdagangan terhadap Madrid.

Sejak lama, Washington telah menekan negara-negara anggota NATO untuk menaikkan target belanja pertahanan dari standar yang telah berlaku lama, yakni 2 persen dari produk domestik bruto (PDB), menjadi 5 persen.

Bagi banyak negara anggota NATO, terutama yang "memiliki perekonomian yang lebih rapuh," memenuhi target baru tersebut "merupakan tantangan yang sangat serius," ungkap Orhan, seraya menambahkan bahwa "perdebatan ini kemungkinan akan terus berlanjut."

Mengenai pertanyaan tentang otonomi strategis Eropa, Orhan menuturkan bahwa "terdapat niat yang jelas dari Eropa untuk menjadi lebih mandiri dari AS."

Para demonstran berunjuk rasa menjelang KTT NATO di Ankara, Turki, 5 Juli 2026. (Xinhua/Mustafa Kaya)

"Namun, apakah Eropa dapat mencapai otonomi yang lebih besar tanpa melemahkan kemampuan operasional militernya masih belum pasti. Kemauan politik memang ada, tetapi hasil akhirnya masih belum jelas," imbuhnya.

Pewarta: Xinhua
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |