Istanbul (ANTARA) - Iran kemungkinan akan membalas serangan Ukraina terhadap sebuah kapal di Laut Kaspia dengan menyerang kapal Ukraina atau kapal yang menuju pelabuhan Ukraina, kata analis politik Turki dan mantan perwakilan perdagangan di Moskow, Aydin Sezer, kepada RIA Novosti.
Sebelumnya pada Sabtu (25/7), Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan bahwa Ukraina telah menyerang kapal dagang Iran, yang mengakibatkan seorang pelaut tewas dan melukai satu lainnya.
"Menurut pandangan saya, perang baru kemungkinan besar tidak akan meletus di wilayah Kaspia akibat serangan seperti ini. Namun, konsekuensinya dapat memengaruhi Azerbaijan di tengah konflik yang sedang berlangsung terkait Iran," kata Sezer.
"Provokasi semacam itu dapat mempercepat pembukaan front baru melawan Iran, yang mungkin diinginkan oleh AS dan Israel. Ukraina tentu akan mencoba menggambarkan serangan ini sebagai sebuah keberhasilan," ujar dia melanjutkan.
"Sulit memprediksi secara tepat bagaimana Iran akan merespons, tetapi setiap saat serangan rudal dapat diluncurkan terhadap kapal Ukraina atau kapal yang menuju pelabuhan Ukraina, di Laut Merah atau dekat Selat Hormuz," tambahnya.
Ukraina sedang memainkan permainan berbahaya di kawasan ini, menurut Sezer.
Pertanyaannya adalah apakah Ukraina melakukan ini atas inisiatif sendiri atau apakah ini merupakan provokasi yang didalangi oleh negara-negara Barat, ucap pakar tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahwa serangan Ukraina terhadap kapal dagang Iran di Laut Kaspia tidak akan dibiarkan begitu saja.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Baca juga: Ukraina serang kapal di Laut Kaspia, Iran protes keras
Baca juga: Iran: Serangan Ukraina ke kapal dagang Iran tak bisa dibiarkan
Baca juga: Iran desak EU "tindak tegas" atas serangan Ukraina ke kapal Iran
Penerjemah: Katriana
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































