Analis ingatkan risiko IHSG tertekan imbas konflik di Timur Tengah

3 hours ago 1
Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven

Jakarta (ANTARA) - Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengingatkan risiko tertekannya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan depan, imbas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurut Hendra, memanasnya konflik antara Iran, Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan hanya sekadar isu politik, namun sudah masuk ke ranah risiko ekonomi di tingkat global.

"Pasar langsung merespons dengan pola risk-off. Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven," ujar Hendra kepada Antara di Jakarta, Minggu.

Apabila eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di kawasan selat Hormuz, menurut Hendra, dapat menyebabkan harga minyak global melonjak lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.

"Dampaknya bisa menjalar ke inflasi global, nilai tukar, hingga kebijakan suku bunga di berbagai negara," ujar Hendra.

Sementara itu, bagi pasar modal Indonesia, Ia menjelaskan tekanan bisa datang dari dua sisi, diantaranya pertama, potensi capital outflow (arus dana modal) karena investor asing mengurangi eksposur di emerging market.

Kemudian, kedua, risiko inflasi impor akibat lonjakan harga energi di tingkat global.

Apabila harga minyak bertahan di level tinggi, Ia mengatakan hal tersebut dapat menyebabkan beban biaya produksi meningkat dan margin perusahaan tercatat (emiten) dapat tertekan.

"Dalam kondisi seperti ini, IHSG berpotensi bergerak melemah dan menguji support klasik di level 8.133. Jika level tersebut jebol, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya. Sementara resistance terdekat berada di 8.300," ujar Hendra.

Namun demikian, menurutnya, tidak semua sektor akan terdampak negatif.

Bagi investor ritel, Hendra merekomendasikan bahwa sikap terbaik adalah disiplin dan selektif.

"Apabila memiliki profil agresif, momentum di sektor komoditas bisa dimanfaatkan dengan manajemen risiko yang ketat," ujar Hendra.

Sementara itu, bagi investor yang konservatif, menurutnya, strategi wait and see tetap relevan sambil memantau perkembangan konflik dan arus dana asing.

"Dalam situasi geopolitik yang panas, kunci bukan sekadar masuk atau keluar pasar, melainkan kemampuan membaca rotasi sektor dan menjaga risiko agar tetap terkendali," ujar Hendra.

Data penutupan perdagangan Jumat (27/02) pekan kemarin, IHSG ditutup menguat 0,23 poin atau 0,00 persen ke posisi 8.235,49. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 3,53 poin atau 0,42 persen ke posisi 834,36.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.526.942 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 47,64 miliar lembar saham senilai Rp38,24 triliun. Sebanyak 341 saham naik, 315 saham menurun, dan 163 tidak bergerak nilainya.

Baca juga: IHSG ditutup menguat di tengah "wait and see" data ekonomi pekan depan

Baca juga: Bakrie & Brothers akan "rights issue", incar dana hingga Rp6,5 triliun

Baca juga: BEI ungkap investor syariah cenderung gemari saham sektor konsumer

Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |