Jakarta (ANTARA) - Mobil listrik asal Negeri Tirai Bambu membelah jalanan Kota Jakarta menuju Bandar Udara Internasional Halim Perdanakusuma di bawah langit yang berselimut awan kelabu.
Ketika rintik hujan pada penghujung bulan Juni mulai mengetuk ringan kaca mobil, Juliansyah, sang pengemudi, memutuskan untuk memecah keheningan.
“Kalo naik ini (mobil listrik) mestinya nggak terlalu khawatir (banjir),” ujar Juliansyah sembari memberi penekanan terhadap kata ‘semestinya’.
Meski banyak pengendara kendaraan listrik (electric vehicle/EV) yang berhasil menembus banjir, Juliansyah tidak menepis ihwal adanya secubit rasa khawatir bila harus melakukan hal serupa. Sebab, mobil yang ia kemudikan bukanlah miliknya sendiri.
Mobil itu merupakan mobil sewaan dari vendor tempat ia mencari nafkah sebagai pengemudi taksi online. Oleh karena itu, jika terjadi sesuatu yang menyebabkan kerusakan terhadap mobil, ia harus bertanggung jawab dan bisa kehilangan pekerjaannya.
Menyambung obrolan tersebut, Juliansyah menuturkan bahwa rekan-rekan sejawatnya, para pengemudi taksi online, mulai beralih ke mobil listrik melalui kemitraan dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Menurutnya, langkah ini terasa lebih hemat dibandingkan harus menanggung cicilan, pajak, serta biaya perawatan mobil pribadi.
Selain itu, Juliansyah juga tidak mengalami kendala berarti saat beralih dari mobil konvensional berbahan bakar bensin ke mobil listrik.
“(Bedanya) cuma pas ngecas. Kira-kira sejam. Itu saya pake istirahat, tidur,” kata Juliansyah.
Dia mengatakan bahwa dalam satu hari, ia mengisi daya mobil listriknya sebanyak dua hingga tiga kali. Satu kali saat pagi hari sebelum mulai beraktivitas, kemudian pada siang atau sore hari.
Juliansyah dan rekan-rekan pengemudi taksi online yang telah menggunakan kendaraan listrik menunjukkan transisi dari mobil konvensional menjadi mobil listrik mulai terjadi di tingkat akar rumput.
Fenomena tersebut seolah menjadi sinyal bahwasanya secara perlahan namun pasti, masyarakat Indonesia mulai menunjukkan ketertarikan terhadap mobil listrik. Terlebih, setelah harga bahan bakar minyak (BBM) menampakkan kerentanannya terhadap konflik geopolitik.
Baca juga: Pakar UMY: Pembangunan SKPL-MU perlu ekosistem kendaraan listrik
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































