Wamentan pastikan pemerintah perkuat sektor persusuan nasional

3 hours ago 3
KementerianPertanian terus memperkuat sektor persusuan nasional melalui peningkatan populasi sapi perah, produksi susu dalam negeri serta konsumsi susu masyarakat

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memastikan pemerintah terus memperkuat sektor persusuan nasional melalui peningkatan produksi susu dalam negeri, memperkuat populasi sapi perah, guna memenuhi kebutuhan gizi masyarakat Indonesia.

"Kementerian Pertanian terus memperkuat sektor persusuan nasional melalui peningkatan populasi sapi perah, produksi susu dalam negeri serta konsumsi susu masyarakat," kata Sudaryono dalam peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 di Jakarta, Sabtu.

Dia menyampaikan langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan menyiapkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.

Menurut Sudaryono, susu merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak-anak Indonesia.

Wamentan Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar ini menegaskan pembangunan sektor persusuan bukan hanya berbicara soal produksi dan ekonomi, tetapi juga investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, menjadi prioritas strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Hal tersebut juga menjadi momentum penting untuk membangkitkan sektor persusuan nasional seiring pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis," ujarnya.

Baca juga: Wamentan dorong telur masuk bantuan pangan demi atasi harga turun

Baca juga: Wamentan tegaskan ekspor sawit satu pintu DSI demi amankan hak negara

Wamentan Sudaryono sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mengatakan, pemerintah saat ini fokus memperkuat sektor persusuan nasional melalui peningkatan produksi dan konsumsi susu masyarakat.

Menurut dia, peningkatan produksi dilakukan dengan memperbanyak populasi sapi perah guna memenuhi kebutuhan susu dalam negeri yang saat ini masih sebagian dipenuhi melalui impor.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memberi sambutan dalam peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026 di Jakarta, Sabtu (6/6/2026). ANTARA/Harianto

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan konsumsi susu per kapita, terutama bagi anak-anak, sejalan dengan pelaksanaan program MBG untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

"Tentu saja sekarang ada MBG. Produksi susu kita memang masih ada sebagian yang impor. Nah kita ingin tingkatkan dua hal," bebernya.

Sebagai anak petani, Sudaryono mengaku merasakan langsung manfaat konsumsi susu sejak usia muda sehingga meyakini pentingnya memperkuat budaya minum susu di masyarakat.

Sebagai anak petani, ia mengatakan susu menjadi bagian dari pola konsumsi sehari-hari sejak remaja dan dinilai berkontribusi terhadap pertumbuhan fisik serta pemenuhan kebutuhan gizi yang lebih baik.

"Kalau saya ini orang produk susu, sampai sekarang saya minum susu. Dari kecil saya nggak pernah nggak minum susu. Mulai SMA saya minum susu sampai sekarang. Saya bahkan dalam tiga tahun naik 14 sentimeter karena minum susu dan makan bergizi," Terangnya

Pengalaman tersebut membuat Sudaryono mendukung penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan gerakan minum susu sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi serta mendukung tumbuh kembang generasi muda Indonesia.

"Jadi kalau orang ngomong apapun negatif tentang MBG, tentang susu, saya adalah orang produk dari makan bergizi dan produk dari minum susu. Jadi pasti saya bela itu MBG dan gerakan minum susu," tambah Sudaryono.

Baca juga: Wamentan akselerasi tanam padi 750 hektare di Lamongan hadapi El Nino

Wamentan Sudaryono menekankan manfaat susu memang tidak bisa dirasakan secara instan, tetapi memberikan dampak besar dalam jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

"Minum susu hari ini pinternya nggak langsung besok. Tapi pinternya itu nanti bertahap, lama-lama jadi tambah pintar, orangnya tambah kuat dan seterusnya. Jadi memang protein, protein, protein," katanya.

Ia juga mengingatkan gagasan memperkuat konsumsi susu sebenarnya telah lama menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.

Jauh sebelum menjabat Presiden maupun Menteri Pertahanan, Prabowo telah menggagas Gerakan Revolusi Putih yang mendorong pemenuhan gizi masyarakat melalui konsumsi susu.

"Bahkan dulu Pak Presiden kita Pak Prabowo sebelum menjadi Presiden, waktu masih mengelola Gerindra, kita bikin Gerakan Revolusi Putih. Jadi memang sudah lama perhatian terhadap susu dan gizi masyarakat ini," jelas Sudaryono.

Di sisi produksi, Wamentan Sudaryono mengakui bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah masih terbatasnya jumlah sapi indukan, khususnya sapi perah.

Menurutnya, teknologi reproduksi dan ketersediaan bibit sudah cukup memadai, namun jumlah ternak hidup masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

"Kita ini kurang sapi induknya. Kalau sperma kemudian bank spermanya kita sudah punya banyak. Baik daging maupun susu, yang kurang itu adalah sapi hidupnya. Memang mesti kita datangkan," bebernya.

Karena itu pemerintah terus mendorong investasi swasta dan BUMN untuk mendatangkan sapi perah dari berbagai negara. Sejumlah komitmen investasi bahkan sudah mulai berjalan dengan skala ribuan hingga puluhan ribu ekor.

"Sudah beberapa ada komitmen, ada yang 10 ribu ekor, ada yang 5 ribu ekor. Dan saya sebagai Wakil Menteri dan Ketua Umum HKTI ingin HKTI itu nggak cuma omong-omong, tapi ingin kasih contoh. Mungkin 100, 200 atau 150 ekor, kita mulai dari diri kita sendiri," katanya.

Wamentan menjelaskan pengembangan sapi perah harus dilakukan di wilayah yang memiliki iklim sesuai, terutama daerah dataran tinggi dengan suhu yang relatif sejuk seperti Lembang, Boyolali, Baturaden, Pasuruan dan Blitar.

Selain itu, pemerintah juga tengah menjajaki pengembangan sapi perah tropis dari Brasil yang dinilai lebih adaptif terhadap iklim Indonesia.

"Kita lagi uji coba juga, katanya ada sapi perah tropis dari Brasil. Kita juga lagi jajaki itu semua. Intinya adalah bagaimana sapinya tambah banyak, susunya diproduksi tambah banyak, dan diminum lebih banyak. Itu saja," ujarnya.

Untuk mempercepat peningkatan produksi susu nasional, pemerintah membuka ruang seluas-luasnya bagi investor dalam dan luar negeri untuk mengembangkan usaha persusuan di Indonesia.

Berbagai kemudahan perizinan dan insentif terus diberikan guna menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem persusuan nasional yang tangguh, modern, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan kesejahteraan peternak rakyat.

Baca juga: Wamentan sebut DSI tak ambil keuntungan saat ekspor CPO satu pintu

Baca juga: Kementan kumpulkan eksportir-perusahaan refinery jaga bisnis sawit

Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |