Produsen mobil China jajaki skema leasing lintas negara

3 hours ago 4

Jakarta (ANTARA) - Ketika produsen mobil China menghadapi hambatan perdagangan yang semakin besar di pasar internasional, mulai dari tarif impor yang tinggi hingga persyaratan kandungan lokal yang ketat, industri ini mulai meninggalkan model tradisional “penjualan satu kali”.

Sebagai gantinya, strategi baru berupa leasing lintas negara (cross-border leasing) semakin diminati sebagai jalur ekspansi global yang lebih praktis dan berkelanjutan, sebagaimana dilaporkan oleh Carnewschina, Sabtu waktu setempat.

Menurut data terbaru dari China Passenger Car Association (CPCA), China mengekspor 769.000 kendaraan pada April, naik 80,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selama empat bulan pertama tahun 2026, total ekspor mencapai 3,127 juta unit, dengan kendaraan energi baru (New Energy Vehicle / EV) menyumbang hampir setengah dari jumlah tersebut.

Baca juga: APPI ungkap empat tipe debitur di industri pembiayaan otomotif

Namun, model perdagangan tradisional “bayar saat barang dikirim” (cash-on-delivery) semakin kurang efektif. Leasing lintas negara menawarkan pendekatan berbeda dengan tetap mempertahankan kepemilikan kendaraan di China, sementara pengguna di luar negeri membayar melalui cicilan. Dengan demikian, fokus ekspor berubah dari penjualan produk satu kali menjadi perdagangan jasa jangka panjang.

Berbeda dengan ekspor tradisional yang langsung memindahkan kepemilikan kepada pembeli, leasing lintas negara, yang sering kali disusun dalam bentuk leasing pembiayaan (financial leasing), memungkinkan perusahaan tetap mengendalikan aset tersebut.

Dengan skema ini, eksportir dapat memperoleh manfaat finansial, yakni pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN/VAT) di dalam negeri, sehingga arus kas menjadi lebih baik.

Baca juga: BRI Finance tingkatkan pembiayaan kendaraan baru melalui GIIAS 2025

Dengan mengubah biaya awal yang tinggi menjadi pembayaran berkala yang lebih terjangkau, produsen mobil juga mendapat penetrasi pasar dengan membuka permintaan di pasar-pasar yang sistem pembiayaan otomotifnya masih kurang berkembang.

Selain itu, perusahaan mampu memperoleh pendapatan jangka panjang: dapat mengikat pelanggan melalui kontrak layanan jangka panjang, termasuk perawatan dan asuransi, sehingga menciptakan aliran pendapatan yang berkelanjutan, bukan hanya transaksi satu kali.

Model ini digambarkan sebagai “aset ringan, operasi berat”. Disebut “ringan” karena perusahaan tidak perlu berinvestasi besar-besaran untuk membangun pabrik atau membeli lahan di luar negeri. Namun disebut “berat” karena memerlukan kemampuan operasional lokal yang kuat, seperti pengelolaan aset, penilaian risiko kredit, dan penarikan kembali kendaraan bila diperlukan.

Baca juga: OJK dorong multifinance untuk diversifikasi ke usaha produktif

Untuk mengurangi risiko, saat ini sebagian besar perusahaan berfokus pada pelanggan B2B (business-to-business), seperti operator armada transportasi daring, yang profil kreditnya lebih transparan dan lebih mudah dikelola dibandingkan konsumen individu.

Huasheng, sebuah perusahaan leasing, telah memulai operasinya di Uzbekistan dan Afrika Selatan, serta baru-baru ini mengumumkan Pakistan sebagai pusat operasional besar berikutnya. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan berbagai lembaga leasing pembiayaan dan mitra ekosistem untuk menyediakan layanan pengelolaan aset yang komprehensif.

Seorang sumber internal mengungkapkan bahwa lebih dari 30 produsen dan merek otomotif China, termasuk Dongfeng, Chery, GAC, dan BAIC, telah menyatakan minat terhadap model kolaboratif ini.

Baca juga: Adira Finance bidik pertumbuhan transaksi 15-20 persen pada IIMS 2025

Baca juga: BSI salurkan pembiayaan Rp5,258 triliun ke sektor otomotif

Pewarta:
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |