Banjarbaru (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat pengawasan pelaksanaan Program Cetak Sawah di wilayah Kalimantan melalui pemantauan berbasis kurva S, pemeriksaan kesiapan alat berat serta evaluasi berkala terhadap capaian pekerjaan guna mendukung percepatan tanam padi.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan Hermanto mengatakan pengawasan dilakukan sejak awal pelaksanaan pekerjaan agar seluruh tahapan konstruksi berjalan sesuai jadwal yang telah disusun oleh masing-masing pelaksana kegiatan.
“Seluruh pengawas lapangan harus melakukan pemantauan secara objektif terhadap progres pekerjaan, termasuk memastikan kesesuaian antara sumber daya yang disiapkan di lapangan dengan dokumen yang telah disampaikan saat proses pengadaan,” ujar dia dalam Rapat Koordinasi Cetak Sawah se-Kalimantan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Sabtu.
Dia menekankan penyedia jasa harus memenuhi seluruh komitmen yang telah dicantumkan dalam dokumen e-Katalog, terutama terkait jumlah alat berat dan kapasitas kerja yang menjadi dasar perhitungan penyelesaian pekerjaan konstruksi.
“Pengawasan terhadap kesiapan alat menjadi faktor penting karena keberadaan alat berat yang memadai akan menentukan kemampuan pelaksana dalam memenuhi target pekerjaan sesuai jadwal yang telah ditetapkan,” tuturnya.
Untuk menjaga ketepatan waktu pelaksanaan, Kementan akan memantau secara ketat perkembangan pekerjaan menggunakan kurva S yang membandingkan target harian dengan capaian aktual di lapangan sehingga potensi keterlambatan dapat segera terdeteksi.
Menurut Hermanto, mekanisme tersebut memungkinkan pemerintah melakukan langkah korektif lebih cepat ketika ditemukan ketidaksesuaian antara rencana kerja dan realisasi pekerjaan yang berlangsung di lapangan.
Baca juga: Pemprov Papua dan Kementan mulai cetak sawah rakyat
Baca juga: Wamentan: Cetak sawah investasi jangka panjang pangan
Ia menegaskan pemerintah akan memberikan peringatan apabila terjadi deviasi lebih dari lima persen antara target dan capaian pekerjaan karena kondisi tersebut berpotensi mengganggu jadwal pelaksanaan konstruksi secara keseluruhan.
Selain pengawasan progres pekerjaan, pemerintah juga mendorong percepatan mobilisasi alat dan personel agar seluruh tahapan konstruksi dapat segera berjalan optimal memanfaatkan kondisi cuaca yang masih mendukung aktivitas di lapangan.
Dia menekankan pengendalian yang disiplin diperlukan untuk memastikan pekerjaan konstruksi berlangsung sesuai jadwal, memenuhi spesifikasi yang ditetapkan, serta menghasilkan lahan yang siap ditanami segera setelah tahapan pekerjaan selesai dilaksanakan.
“Kita harus disiplin terhadap target dan capaian pekerjaan sehingga pelaksanaan konstruksi dapat berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan,” ujar Hermanto.
Pemerintah menargetkan cetak sawah baru seluas 400.000 hingga 480.000 hektare yang didukung oleh anggaran sebesar Rp10 triliun. Program strategis nasional ini dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian melalui program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dan dikawal langsung melalui sinergi bersama TNI AD.
Target perluasan lahan masif ini ditujukan untuk mengakselerasi swasembada pangan nasional, mengkompensasi hilangnya lahan produktif akibat alih fungsi, serta membuka sentra pertanian baru di luar Pulau Jawa.
Baca juga: Mentan tegaskan alihkan anggaran bagi daerah tak serius cetak sawah
Baca juga: Kementan percepat oplah-cetak sawah di Jambi demi swasembada
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































