Di sela mengajar, guru perbatasan menjaga anyaman bidai tetap hidup

3 hours ago 4
Dulu hampir setiap rumah membuat bidai. Sekarang sudah semakin sedikit yang masih bertahan

Bengkayang (ANTARA) - Jemari Tuti Susanti (34) bergerak pelan menyelipkan helai demi helai rotan berwarna hitam dan cokelat. Di hadapannya, selembar bidai hampir rampung dianyam. Motif khas Dayak mulai membentuk pola yang rapi dan indah.

Di sudut rumahnya di Dusun Preges, Desa Seluas, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, tampak tumpukan rotan yang baru didatangkan dari Kalimantan Tengah. Bahan baku itu menjadi bagian penting dari aktivitas yang telah dikenalnya sejak kecil, jauh sebelum dirinya menjadi seorang guru.

Kini kesehariannya terbagi dalam dua peran. Pada pagi hingga siang hari, ia mengajar di SD Negeri 15 Malayang, Dusun Rahadja, Desa Mayak, Kecamatan Seluas. Untuk mencapai sekolah, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu jam menggunakan sepeda motor.

Ketika aktivitas belajar mengajar usai, Tuti kembali menekuni pekerjaan yang diwariskan turun-temurun oleh keluarganya, yakni membuat bidai, anyaman rotan khas Dayak yang menjadi salah satu identitas budaya masyarakat di perbatasan dengan Malaysia itu.

"Saya belajar membuat bidai sejak kelas enam SD. Setiap pulang sekolah kami membantu orang tua menganyam. Dari situlah lama-lama bisa membuat sendiri," kata ibu tiga anak itu kepada ANTARA, akhir minggu pertama Juni.

Keterampilan itu diwarisinya dari kedua orang tua yang sejak lama menekuni kerajinan bidai. Sembari melanjutkan anyaman, Tuti mengenang masa kecilnya yang lebih sering dihabiskan untuk memperhatikan orang tuanya bekerja dibanding bermain bersama teman-teman seusianya.

Dari kebiasaan itulah ia mengenal berbagai motif, cara memilih rotan berkualitas, hingga teknik menyusun anyaman yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Menurut Tuti, tidak semua orang mampu membuat bidai. Selain membutuhkan ketekunan, setiap motif memiliki tingkat kesulitan tersendiri yang harus dikuasai.

"Dulu hampir setiap rumah membuat bidai. Sekarang sudah semakin sedikit yang masih bertahan," kata dia.

Pada masa lalu, hasil anyaman keluarganya lebih banyak dipasarkan ke Pasar Serikin, Malaysia, yang berada tidak jauh dari kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Saat itu, peminat bidai justru lebih banyak datang dari negeri jiran dibandingkan dari dalam negeri.

Dari rumahnya, perjalanan menuju Pasar Serikin hanya sekitar satu jam. Waktu tempuh itu lebih singkat dibandingkan menuju Kota Bengkayang yang membutuhkan sekitar dua jam perjalanan. Sementara untuk menuju Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat, diperlukan waktu lebih dari lima jam perjalanan darat.

Setiap akhir pekan, hasil anyaman orang tuanya dibawa ke Serikin untuk dijual kepada para pembeli yang tertarik dengan keunikan dan kualitas bidai Dayak.

"Dulu peminatnya lebih banyak dari Malaysia. Hari Sabtu dan Minggu biasanya hasil bidai dibawa ke sana untuk dijual," kata Tuti.

Sempat terhenti

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |