Wamen LH: Penanaman bambu berpeluang ciptakan "green jobs"

3 hours ago 1

Kabupaten Bogor (ANTARA) - Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono mengatakan penanaman bambu berpeluang menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs) sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat melalui perdagangan karbon.

"Itu yang Pak Menteri sekarang sedang galakkan, sedang didorong terus supaya masyarakat dan komunitas mempunyai penghasilan lebih. Pekerjaan yang hijau ini," kata Diaz dalam kegiatan penanaman bambu dan sarasehan di Yayasan Bambu Indonesia, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu.

Diaz menjelaskan kegiatan penanaman bambu dapat menghasilkan nilai ekonomi dari pengurangan emisi karbon yang diserap tanaman tersebut.

Menurut dia, pengurangan emisi karbon dari penanaman bambu dapat dihitung melalui metodologi tertentu dan selanjutnya diverifikasi untuk memperoleh sertifikat karbon.

"Nah pengurangan emisinya itu yang bisa diperdagangkan," ujarnya.

Ia mengatakan masyarakat berpeluang memperoleh dua sumber pendapatan, yakni dari hasil bambu dan dari nilai ekonomi karbon yang dihasilkan melalui kegiatan penanaman tersebut.

"Artinya ada dua sumber penghasilan, dari bambunya sendiri dan dari penanamannya yang mengurangi emisi. Jadi penghasilannya bisa ganda," kata Diaz.

Menurut dia, sertifikat karbon diterbitkan setelah melalui proses penghitungan dan verifikasi terhadap jumlah emisi karbon yang berhasil dikurangi.

Sertifikat tersebut selanjutnya dapat diperjualbelikan dalam skema perdagangan karbon yang saat ini terus dikembangkan pemerintah.

Diaz menambahkan pengembangan ekonomi karbon menjadi salah satu instrumen yang didorong pemerintah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis ekonomi hijau.

Kegiatan penanaman bambu tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong rehabilitasi lingkungan yang melibatkan pemerintah, komunitas, dan masyarakat.

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Wuryanti Puspitasari
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |