Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Peneliti Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej) Arif Mohammad Siddiq mengatakan, burung puyuh gonggong biasa (Arborophilia orientalis), berpotensi menjadi fauna khas bumi Pandalungan.
"Fauna itu unik dan tiada duanya karena hanya ada di bumi Pandalungan. Burung itu hanya hidup di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri (TNBTS)," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu.
Menurutnya informasi dan pengetahuan mengenai puyuh gonggong biasa itu belum banyak tersebar, sehingga tidak heran jika masyarakat masih asing dengan burung tersebut, bahkan keberadaan burung puyuh itu rentan terhadap kepunahan (vulnerable).
"Saya sudah tiga tahun naik turun di wilayah Pegunungan Ijen dan TNBTS untuk melakukan pengamatan puyuh gonggong biasa. Banyak keunikan puyuh gonggong biasa yang berpotensi menjadikannya sebagai fauna khas bumi Pandalungan," tutur Arif.
Ia mengatakan puyuh gonggong biasa hanya hidup di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri saja, di tempat lain tidak ada. Suaranya yang melengking dan seperti menggonggong mirip anjing membuat para pakar burung menjulukinya sebagai puyuh gonggong.
Hasil penelitiannya, puyuh gonggong biasa hidup berkelompok mulai dari lima hingga lima belas ekor di wilayah yang memiliki ketinggian 500 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan umumnya di atas ketinggian 1.000 mdpl.
"Mereka aktif mencari makan di pagi dan sore hari menjelang malam di lantai hutan yang tutupan kanopi pohonnya masih rapat," kata Arif.
Untuk mengetahui bagaimana puyuh gonggong biasa hidup dan berinteraksi di alam liar, Arif memilih menggunakan kamera jebak. Selain puyuh gonggong biasa, ia juga menemukan hewan lainnya di wilayah pegunungan Ijen seperti anjing liar atau ajag, merak hingga macan tutul.
"Keberadaan burung endemik itu menambah daya tarik wilayah Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan TNBTS. Keberadaan puyuh gonggong biasa melengkapi kekayaan alam bumi Pandalungan," ujar Arif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukannya bersama tim pada tahun 2021 di Pegunungan Ijen, tercatat sebanyak 57 spesies burung dengan sepuluh di antaranya tergolong burung yang dilindungi. Mulai dari burung madu gunung, elang hitam, julang emas, cekakak Jawa dan tentunya puyuh gonggong biasa.
"Walau statusnya terancam punah namun puyuh gonggong biasa belum masuk dalam satwa yang dilindungi. Hidupnya kini terancam oleh alih guna lahan dan perburuan liar," kata Arif.
Para peneliti Unej mendorong pemerintah segera memasukkan fauna khas bumi Pandalungan itu sebagai satwa yang dilindungi dan perlu kesadaran masyarakat bahwa menjaga kelestarian alam adalah kewajiban bersama.
"Puyuh gonggong berpotensi menjadi fauna khas dan kebanggaan warga Jember dan sekitarnya, sehingga wajib dilindungi, termasuk memperbanyak penelitian dan kajian mengenai puyuh gonggong agar makin banyak informasi yang dihasilkan, harapannya masyarakat tahu dan tergerak melestarikannya,” ujar Arif.
Baca juga: Talas langka Sumatera diusulkan masuk kategori terancam punah
Baca juga: Kemenhut laporkan temuan induk dan anak badak jawa di TN Ujung Kulon
Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































