Jakarta (ANTARA) - Uber memberlakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 10 persen karyawannya sebagai bagian restrukturisasi dan efisiensi perusahaan.
Dilansir dari laporan Engadget pada Rabu (2/9) waktu setempat, Uber memiliki sekitar 34.000 karyawan pada akhir 2025.
Dalam memo kepada karyawan, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan perusahaan akan menyederhanakan struktur tim dan mengurangi jenjang manajemen agar dapat bekerja lebih cepat sekaligus memiliki ruang lebih besar untuk melakukan investasi.
"Organisasi yang lebih ramping akan membuat tanggung jawab lebih jelas, mempercepat pengambilan keputusan, dan memberikan lebih banyak waktu untuk membangun daripada berkoordinasi," kata Dara.
Menurutnya, efisiensi dari restrukturisasi juga akan menghasilkan penghematan yang nantinya dapat diinvestasikan kembali untuk mendukung pertumbuhan dan inovasi perusahaan.
Baca juga: Uber bersama Pony AI berencana hadirkan layanan robotaxi di Eropa
"Langkah ini juga akan menghasilkan penghematan yang kami rencanakan untuk diinvestasikan kembali dalam pertumbuhan, inovasi, serta pengembangan kemampuan yang akan menjadi hal paling penting dalam beberapa tahun mendatang," ujar Dara.
Dara mengatakan bisnis Uber telah berkembang pesat dalam sekitar lima tahun terakhir, dengan pendapatan perusahaan hampir tiga kali lipat. Namun, pertumbuhan tersebut juga membuat struktur internal perusahaan menjadi semakin kompleks.
Berdasarkan survei internal, sejumlah karyawan menilai terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk membahas berbagai persoalan dan melakukan koordinasi antartim.
Untuk mengatasi hal tersebut, Uber menghapus sejumlah posisi yang berfokus pada koordinasi, mengurangi jenjang manajemen, serta menggabungkan beberapa tim yang dinilai menyebabkan pekerjaan ganda dan memperlambat pengambilan keputusan.
Selain merampingkan struktur organisasi, Uber juga akan memusatkan lebih banyak tim di sejumlah lokasi utama.
Baca juga: Belanda denda Uber atas penonaktifan otomatis akun pengemudi
Tim global perusahaan akan berbasis di New York dan San Francisco, sementara pusat teknologi serta tim regional dan negara tetap dipertahankan.
Uber juga akan memperketat kebijakan kerja hybrid. Sebagian besar karyawan yang bekerja sepenuhnya dari jarak jauh akan diminta kembali bekerja dari kantor setidaknya tiga hari dalam sepekan.
Dara memperkirakan hanya sekitar satu persen karyawan Uber yang akan tetap bekerja sepenuhnya secara jarak jauh di masa mendatang.
Restrukturisasi ini dilakukan ketika Uber juga tengah meningkatkan investasi di sektor kendaraan otonom.
Pada bulan sebelumnya, perusahaan berkomitmen menginvestasikan hingga 10 miliar dolar AS (Rp177 triliun) untuk mengembangkan bisnis kendaraan otonom setelah menjual divisi kendaraan tanpa pengemudi miliknya pada 2020.
Menurut Dara, langkah restrukturisasi diharapkan dapat membantu perusahaan membangun organisasi yang lebih kuat dalam jangka panjang.
Baca juga: Uber kenalkan versi produksi robotaxi hasil kolaborasi Lucid dan Nuro
Penerjemah: Farhan Arda Nugraha
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































