Washington (ANTARA) - Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan meminta perpanjangan waktu dari Kongres untuk melanjutkan operasi militer terhadap Iran menjelang batas 60 hari tanpa persetujuan legislatif.
Hal itu disampaikan mantan Wakil Presiden Eurasia Center, Letnan Kolonel Purnawirawan Angkatan Darat AS Earl Rasmussen, kepada RIA Novosti, Rabu (29/4).
"Trump berada dalam situasi tanpa pilihan menguntungkan, tetapi berusaha mencari jalan keluar. Ia kemungkinan akan meminta perpanjangan tambahan," kata Rasmussen.
Operasi militer AS akan genap 60 hari pada 1 Mei sejak Trump memberitahu Kongres mengenai operasi tersebut.
Berdasarkan War Powers Resolution, Trump harus memperoleh persetujuan Kongres untuk melanjutkan operasi setelah 60 hari atau mulai menarik pasukan, dengan opsi tambahan 30 hari melalui pemberitahuan tertulis.
Rasmussen menilai penarikan pasukan akan berdampak buruk secara politik bagi Trump, sementara melanjutkan operasi berisiko memperburuk situasi.
"Jika Trump menarik pasukan, itu tidak akan terlihat baik secara politik. Ia mungkin akan melanjutkan ancamannya, tetapi hasilnya kemungkinan lebih buruk," ujarnya.
Ia juga menyerukan agar Trump untuk menghentikan perang dan mengakui bahwa keputusan menyerang Iran merupakan langkah keliru meskipun Israel dan sebagian elite politik AS dapat mendorong eskalasi.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.
Kedua pihak kemudian mengumumkan gencatan senjata dua pekan pada 7 April, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil.
Sejak 13 April, AS juga memberlakukan blokade terhadap lalu lintas laut yang masuk dan keluar pelabuhan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Sumber: Sputnik
Baca juga: Trump tidak puas dengan usulan Iran buka kembali Selat Hormuz
Baca juga: Trump bahas proposal Iran dengan tim keamanan nasional AS
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































