Transformasi pembelajaran bahasa: Tujuh keterampilan berbahasa

1 day ago 5

Jakarta (ANTARA) - Setiap zaman melahirkan paradigma baru dalam pendidikan. Ketika masyarakat berubah, cara manusia belajar dan berkomunikasi pun ikut berubah. Pendidikan yang tidak mampu mengikuti perubahan tersebut lambat laun akan kehilangan relevansinya.

Dalam pendidikan bahasa, revolusi terbesar abad ke-20 terjadi ketika dunia meninggalkan pendekatan struktural yang berpusat pada tata bahasa menuju pembelajaran dengan pendekatan komunikatif (communicative language teaching/CLT).

Sejak dekade 1970-an, tujuan pembelajaran bahasa tidak lagi sekadar menguasai kaidah bahasa, melainkan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi secara nyata. Dari sinilah lahir paradigma empat keterampilan berbahasa: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Keempat paradigma itu telah bertahan hampir 50 tahun. Ia membentuk kurikulum, buku pelajaran, pendidikan guru, asesmen, hingga cara masyarakat memahami literasi. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah empat keterampilan tersebut masih cukup untuk menjelaskan cara manusia berkomunikasi pada era digital dan kecerdasan artifisial? Jawabannya semakin jelas: belum cukup.

Komunikasi manusia telah berubah secara fundamental. Kita tidak lagi hanya membaca buku atau mendengarkan ceramah. Kita setiap hari memahami infografik, menafsirkan video pendek, membaca visualisasi data, berinteraksi melalui media sosial, mengikuti webinar, membuat konten digital, hingga berdialog dengan sistem AI.

Baca juga: Memahami makna "bajingan" dalam perspektif bahasa

Komunikasi modern bersifat multimodal, memadukan teks, gambar, suara, gerak, simbol, animasi, dan interaktivitas dalam satu kesatuan. Ironisnya, sekolah masih didominasi oleh paradigma abad ke-20. Peserta didik membaca teks, menjawab pertanyaan, lalu menulis ringkasan. Padahal, kehidupan nyata menuntut kemampuan yang jauh lebih kompleks.

Oleh karena itu, pendidikan bahasa memerlukan lompatan paradigma baru, yaitu tujuh keterampilan berbahasa: menyimak, membaca, berbicara, menulis, memirsa (viewing), merepresentasikan (representing), dan mempresentasikan (presenting).

Penambahan tiga keterampilan tersebut bukanlah penambahan kosmetik, melainkan perluasan makna literasi.

Viewing merupakan kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan mengkritisi pesan yang disampaikan melalui media visual dan multimodal. Pada abad ke-21, membaca infografik, dashboard data, peta digital, film dokumenter, atau simulasi interaktif sama pentingnya dengan membaca artikel atau buku.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |