Jakarta (ANTARA) - Pelatih panahan compound Indonesia Lilies Handayani mengakui komposisi skuad yang hanya berisi satu atlet putra membatasi pilihan tim dalam menentukan pasangan terbaik untuk nomor campuran Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Indonesia membawa empat pemanah compound, terdiri atas Sostar Andaru Rinaldi di putra serta Ratih Zilizati Fadhly, Yurike Nina Bonita Pereira, dan Nurisa Dian Ashrifah di putri.
"Kalau ada tiga putra dan tiga putri sebenarnya lebih enak. Kami bisa memilih. Kami sudah tahu siapa nomor satu, tetapi kami juga tidak tahu sewaktu-waktu mereka tidak perform," kata Lilies di Jakarta, Sabtu.
Menurut Lilies, persaingan di antara atlet compound putra sebenarnya relatif ketat. Pada tes terakhir, selisih atlet peringkat pertama dengan pesaing di bawahnya hanya berkisar dua hingga empat poin.
Kondisi tersebut membuat tim pelatih idealnya memiliki lebih banyak pilihan untuk mengantisipasi perubahan performa menjelang pertandingan.
Baca juga: Compound Indonesia bidik tiket Olimpiade 2028 lewat Asian Games 2026
PB Perpani sebelumnya menyiapkan 12 atlet untuk Asian Games sebelum mengurangi jumlah tersebut menjadi 10 karena pertimbangan efisiensi anggaran. Dua atlet yang tidak masuk dalam daftar akhir berasal dari sektor compound.
Lilies mengatakan penentuan kekuatan tim juga mempertimbangkan hasil pada SEA Games 2025 Thailand.
Pada ajang tersebut, Indonesia meraih emas compound dari nomor perseorangan putri melalui Nurisa dan beregu putri melalui Nurisa, Ratih, serta Yurike, sementara medali perunggu nomor campuran direbut Nurisa bersama Prima Wisnu Wardhana.
Meski memiliki pilihan terbatas, Lilies menilai satu-satunya atlet putra yang dipersiapkan menunjukkan perkembangan setelah melakukan penyesuaian terhadap peralatan.
"Dia bagus. Setelah diganti string dan di-tuning, performanya langsung naik," ujar Lilies.
Baca juga: Atlet panahan mulai latihan keras persiapan Asian Games 2026
Baca juga: Perubahan sistem pelatnas buat atlet para panahan makin kompetitif
Pewarta: Muhammad Ramdan
Editor: Junaydi Suswanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































