Istanbul (ANTARA) - Iran mengecam sanksi ekonomi baru Amerika Serikat terhadap Iran karena penerapan sanksi sekunder oleh AS melanggar kedaulatan negara-negara lain dan hukum internasional.
"Pengumuman sanksi ekonomi baru AS terhadap Iran jauh lebih dari sekadar kelanjutan perang ekonomi yang melanggar hukum terhadap satu negara. Ini merupakan penegasan kedaulatan ekstra-teritorial atas setiap negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merdeka," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran Esmaeil Baghaei di platform X, Sabtu.
Baghaei menegaskan tidak ada negara yang secara sah dapat memaksa bank, perusahaan, maupun bandara asing di bawah yurisdiksi negara berdaulat lain untuk menghentikan perdagangan sah dengan negara ketiga.
Sanksi sekunder tidak memiliki dasar hukum internasional karena melanggar prinsip kesetaraan kedaulatan, sebagaimana tercantum dalam Pasal 2(1) Piagam PBB serta larangan adat terhadap intervensi yang ditegaskan Mahkamah Internasional dalam kasus Nikaragua.
Baghaei juga mengaitkan sanksi tersebut dengan blokade angkatan laut AS, dengan menyatakan kombinasi keduanya mereduksi kedaulatan negara-negara lain menjadi sesuatu yang bersifat sementara, bersyarat, dan dapat dicabut sesuka hati kekuatan lain.
Baca juga: Menlu Iran sebut operasi ekonomi AS terhadap Teheran pasti gagal
Dia pun memperingatkan langkah-langkah semacam itu pada akhirnya dapat mengikis kedaulatan sebagai landasan sistem internasional yang berpusat pada PBB dan berujung pada kolonialisme klasik dalam skala penuh.
Rabu (19/8), Presiden AS Donald Trump mengumumkan niatnya untuk melancarkan operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun.
Trump menggambarkan operasi itu sebagai bentuk kampanye tekanan maksimumnya terhadap Iran sebagai perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Trump akan memutus jalur keuangan yang mendukung Iran, sekaligus memperingatkan negara-negara yang memberikan "jalur penyelamat" ekonomi kepada Iran melalui lembaga keuangan, perusahaan, bandara, atau lembaga pemerintah akan menghadapi konsekuensi ekonomi yang berat.
Dengan menyebut kampanye tersebut sebagai "Hari H Ekonomi", Trump mendesak sekutu AS untuk bergabung dalam upaya mengisolasi Iran secara finansial.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Iran sebut sanksi ekonomi baru AS pasti gagal
Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































