Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Komersialisasi dan Transportasi Migas Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan kilang pengolahan minyak mentah berperan penting dalam proses hilirisasi.
"Selama ini, Indonesia mengekspor bahan mentah, kemudian diolah di luar negeri dan diimpor kembali, sehingga nilai tambahnya justru dinikmati negara lain," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Hangga, panggilannya, saat kunjungan kerjanya ke Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jateng, Kamis (8/1/2026), melanjutkan, melalui penguatan kilang, nilai tambah tersebut dapat dimaksimalkan di dalam negeri.
Saat ini, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Hilirisasi yang menaungi 18 proyek strategis guna meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri sekaligus memperkuat daya saing nasional.
Hangga menyampaikan kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meninjau secara langsung kondisi kilang, tantangan operasional yang dihadapi, serta potensi pengembangan dan revitalisasi kilang dalam rangka mendukung program hilirisasi energi nasional.
Ia mengakui sebagian besar kilang di Indonesia, termasuk RU IV Cilacap, yang merupakan salah satu kilang minyak terbesar dan paling strategis di Indonesia yang dikelola PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), telah berusia cukup lama, sehingga membutuhkan peningkatan kapasitas dan revitalisasi.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui pengembangan bertahap maupun pendekatan proyek kilang minyak modular.
Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), berkomitmen menyelaraskan kebijakan dan regulasi dengan kondisi di lapangan agar pengembangan kilang dapat berjalan secara optimal.
RU IV Cilacap yang beroperasi sejak 1974 memiliki kapasitas pengolahan mencapai 348 ribu barel minyak per hari.
Kilang memiliki fleksibilitas tinggi dalam mengolah berbagai jenis minyak mentah.
RU IV Cilacap memasok 60 persen kebutuhan BBM di Pulau Jawa dan menyumbang lebih dari 30 persen total kapasitas kilang nasional.
Kilang Cilacap menghasilkan BBM, avtur, petrokimia, bahan bakar khusus seperti Pertamax dan lube base oil.
RU IV juga merupakan pionir produksi Pertalite dan Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Baca juga: Kementerian ESDM: Tarif listrik triwulan I 2026 tidak naik
Baca juga: Penguatan inovasi jadi solusi hadapi tantangan ketergantungan fosil
Baca juga: Tenaga Ahli Menteri ESDM: Pelaksanaan JET perlu sinergi lintas sektor
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































