Kemenag gelar takjil pesantren gaungkan semangat beragama dengan asyik

2 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Direktorat Pesantren Kementerian Agama kembali menggelar Takjil Pesantren yang dirangkai dengan Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Daarul Rahman, Jakarta Selatan, Selasa.

Seri kedua Takjil Pesantren ini mengangkat tema “Beragama dengan Asyik” sebagai penguatan budaya keberagamaan yang hidup di lingkungan pesantren.

“Dalam pesantren menerapkan kebiasaan-kebiasaan dalam menjalankan ibadah sehingga mampu memunculkan beragama itu asyik secara mendasar dan telah menjadi rutinitas, budaya dalam pondok pesantren,” ujar Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Arskal Salim dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Arskal menegaskan pesantren membentuk pengalaman beragama yang tidak kaku, melainkan tumbuh dari pembiasaan ibadah sehari-hari.

Tradisi tersebut menjadikan agama hadir sebagai rutinitas yang menyenangkan sekaligus membangun karakter kebangsaan.

Baca juga: Tantangan transformasi pesantren berbasis tradisi

Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Faiz Syukron Makmum menjelaskan spirit beragama yang asik harus tetap bertumpu pada kedalaman ilmu dan keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Ia menekankan integrasi antara penguasaan ilmu agama dan literasi teknologi sebagai kebutuhan santri masa kini.

“Santri tidak boleh dibatasi hanya belajar agama, tetapi juga harus melek perkembangan zaman dan teknologi sehingga mampu memadukan antara ilmu agama dan perkembangan teknologi. Ngajinya jangan terlalu formal namun harus sesuai dengan forum yang akan menerima ilmu,” kata dia.

Gus Faiz menambahkan kultur, inovasi cara belajar, serta pembiasaan sejak dini menjadi fondasi agar santri mampu beradaptasi tanpa kehilangan arah. Pesantren, menurutnya, harus melahirkan generasi yang tumbuh selaras dengan perjalanan zaman.

“Pesantren membutuhkan kultur, budaya, inovasi cara belajar, belajar bagaimana berinovasi, belajar bagaimana berbaur dan terjun di tengah masyarakat. Semoga santri dapat menikmati fasilitas yang diberikan negara kepada pondok pesantren,” kata dia.

Baca juga: Baznas gelar pesantren komunitas marjinal di 20 titik selama Ramadhan

Sementara itu, Direktur Pesantren Basnang Said menyebut negara harus hadir untuk memastikan pesantren semakin kuat dan mandiri. Kehadiran tersebut diwujudkan melalui ruang dialog serta penguatan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan pesantren.

“Dalam menguatkan pesantren, negara hadir untuk pesantren. Untuk itu perlu adanya forum mengumpulkan pesantren se-DKI Jakarta guna menampung masukan pondok pesantren yang ada di DKI Jakarta,” kata Basnang.

Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi Dana Abadi Pesantren sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi. Skema inkubasi bisnis dinilai menjadi langkah konkret agar pesantren tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

“Dana Abadi Pesantren hadir untuk pesantren dalam bentuk bantuan inkubasi bisnis pesantren,” kata dia.

Baca juga: Di balik sajadah: Santriwati dan bayang kekerasan

Baca juga: Ketua MPR sebut santri justru punya kesempatan belajar lebih intens

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |